A.    SEJARAH SINGKAT DAN CENTRA PRODUKSI TANAMAN PISANG
Pisang adalah tanaman herba yang berasal dari kawasan asia tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman buah ini kemudian menyebar luas ke kawasan Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan, dan Amerika Tengah. Penyebaran tanaman ini selanjutnya hampir merata keseluruh dunia, yakni meliputi daerah tropis dan subtropis, dimulai dari Asia Tenggara ke timur melalui Lautan Teduh sampai ke Hawai. Selain itu, tanaman pisang menyebar ke barat melalui Samudra Atlantik, Kepulauan Kanari, sampai Benua Amerika.
Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Tidak diketahui dengan pasti berapa luas perkebunan pisang di Indonesia. Walaupun demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997 adalah ke Cina.

B.     JENIS TANAMAN       
Berdasarkan Taksonominya, tanaman pisang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kerajaan             : Plantae
Divisi                  : Magnoliophyta
Kelas                  : Liliopsida
Ordo                   : Zingiberales
Famili                 : Musaceae
Genus                 : Musa
Spesies               : Musa Spp
Jenis pisang dibagi menjadi tiga:
1.      Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis. Misalnya pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas.
2.      Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis. Misalnya pisang nangka, tanduk dan kepok.
3.      Pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya. Misalnya pisang batu dan klutuk.
4.      Pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).

C.    MANFAAT TANAMAN
Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia. Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia. Secara radisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun.

D.    MORFOLOGI TANAMAN PISANG
Akar
Pohon pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akat tunggang yang berpangkal pada umbi batang. Akar terbanyak berada di bagian bawah tanah. Akar ini tumbuh menuju bawah sampai kedalaman 75-150 cm. Sedang akar yang berada di bagian samping umbi batang tumbuh kesamping atau mendatar. Dalam perkembangannya, akar samping bisa mencapai ukuran 4-5 m.

Batang
Batang pisang sebenarnya terletak di dalam tanah, yakni berupa umbi batang. Di bagian atas umbi batang terdapat titik tumbuh yang menghasilkan daun dan pada suatu saat akan tumbuh bunga pisang (jantung). Sedangkan yang berdiri tegak di atas tanah dan sering dianggap sebagai batang merupakan batang semu. Batang semu ini terbentuk dari pelepah daun panjang yang saling menutupi dengan kuat dan kompak sehingga bisa berdiri tegak layaknya batang tanaman. Oleh karena itu, batang semu kerap dianggap batang tanaman pisang yang sesungguhnya. Tinggi batang semu ini berkisar 3,5-7,5 m, tergantung dari jenisnya.

Daun
Helai daun pisang berbentuk lanset memanjang yang letaknya tersebar dengan bagian bawah daun tampak berlilin. Daun ini diperkuat oleh tangkai daun yang panjangnya antara 30-40 cm. Oleh karena tidak memiliki tulang-tulang pada bagian tepinya, daun pisang mudah sekali terkoyak oleh hembusan angin yang kencang.

Bunga
Bunga pisang disebut juga jantung pisang karena bentuknya menyerupai jantung. Bunga pisang tergolong berkelamin satu, yakni berumah satu dalam satu tandan. Daun penumpu bunga biasanya berjejal rapat dan tersusun secara spiral. Daun pelindung yang berwarna merah tua, berlilin, dan mudah rontok berukuran panjang 10-25 cm. Bunga tersebut tersusun dalam dua baris melintang, yakni bunga betina berada di bawah bunga jantan (jika ada). Lima daun tenda bunga melekat sampai tinggi dengan panjang 6-7 cm. Benang sari yang berjumlah lima buah pada bunga betina terbentuk tidak sempurna. Pada bunga betina terdapat bakal buah yang berbentuk persegi, sedangkan pada bunga jantan tidak terdapat bakal buah.

Buah
Biasanya, setelah bunga keluar, akan terbentuk satu kesatuan bakal buah yang disebut sebagai sisir. Sisir pertama yang terbentuk akan terus memanjang membentuk sisir kedua, ketiga, dan seterusnya. Pada kondisi ini, sebaiknya jantung pisang dipotong karena sudah tidak bisa menghasilkan sisir lagi.
E.     SYARAT TUMBUH
Iklim
1.      Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan.
2.      Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
3.      Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang.

Media Tanam
1.      Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah berat. dengan pH antara 4,5-7,5. Oleh karena itu, tak heran bila tanaman pisang yang tumbuh di daerah dengan tanah berkapur pertumbuhannya akan sangat baik, seperti di Pulau Madura yang banyak memiliki bukit-bukit kapur.Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan.
2.      Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50 - 200 cm, di daerah setengah basah 100 - 200 cm dan di daerah kering 50 - 150 cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%.
Ketinggian Tempat
Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl.
Bila dikaitkan dengan syarat tumbuh pisang, faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tandan buah pisang antara lain sebagai berikut :
a.       Kondisi Tanah
Tanah yang subur tentu saja akan berpengaruh baik terhadap besar dan panjang tandan. Sebaliknya, tanah yang tidak subur akan mengakibatkan tandan pisang kecil dan pendek.
b.      Iklim
Bila bunga keluar saat musim hujan, tandan akan lebih besar dan panjang dibandingkan pada musim kemarau.
c.       Jenis Pisang
Masing-masing jenis pisang memiliki sifat yang berbeda. Ada yang bertandan panjang, ada juga yang bertandan pendek.
d.      Kecepatan Tumbuh Tanaman
Pisang yang pada waktu mudanya tumbuh dan berkembang dengan baik biasanya akan menghasilkan tandan yang lebih baik dibandingkan tanaman pisang yang saat mudanya berukuran kerdil.
F.     PEDOMAN BUDI DAYA PISANG
Pemilihan Dan Penyediaan Bibit
1.      Bibit Anakan
Tanaman pisang biasanya selalu diperbanyak secara vegetatif, yakni dengan menggunakan anakan (sucker) yang tumbuh dari bonggolnya. Terdapat empat jenis anakan pisang, yakni sebagai berikut :
A.    Bibit rebung berupa tunas yang belum berdaun sehingga menyerupai rebung. Bibit dengan tinggi antara 20-40 cm ini disebut juga tunas anakan.
B.     Bibit anakan berupa tunas yang daunnya telah keluar, tetapi masih menggulung sehingga berbentuk seperti pedang dengan tinggi antara 41-100 cm.
C.     Bibit anakan sedang dengan tinggi antara 101-150 cm.
D.    Bibit anakan dewasa berupa tunas yang berdaun mekar lebih dari dua helai. Tingginya antara 151-175 cm.
Diantara bibit anakan, bibit anakan dewasa cendrung paling cepat menghasilkan buah, diikuti bibit anakan sedang, anakan muda, dan anakan tunas. Bibit anakan tunas jarang digunakan sebagai bibit karena pertumbuhannya lambat serta rentan terhadap kekeringan dan ulat penggerek batang pisang. Bibit anakan muda yang berdaun lebar sebaiknya juga tidak digunakan sebagai bibit.
Bibit pisang hendaknya dipilih dari rumpun yang baik dan sehat. Anakan tersebut dibongkar dengan menggunakan cangkul atau linggis, kemudian akar dan daunnya dibung. Ketika membongkar, usahakan agar pohon induk tidak rusak. Anakan yang baik adalah pada bonggolnya tidak terdapat bercak cokelat, hitam, atau lubang bekas serangan hama. Bercak cokelat atau hitam menandakan bahwa tanaman telah terserang penyakit. Setelah diberi perlakuan air panas, anakan yang dijadikan bibit sebaiknya dibiarkan selama 1-2 hari di tempat yang teduh dan lembab.

2.      Bibit Bit
Selain dari anakan pisang, bibit juga bisa diperoleh dari belahan bonggol tanaman pisang. Belahan bonggol ini kemudian disebut bit. Terdapat beberapa keuntungan melakukan pembibitan menggunakan bonggol, antara lain :
A.    Dalam waktu singkat bisa didapatkan bibit yang seragam dalam jumlah banyak sehingga cocok untuk gerakan penghijauan atau perluasan areal baru.
B.     Mudah dalam pengiriman dan biayanya cenderung lebih murah.
C.     Umur panennya lebih pendek dibandingkan cara pembibitan lainnya dan produksinya lebih tinggi.
D.    Dapat memanfaatkan bonggol sisa tebangan.

Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam sebaiknya dilaksanakan sekitar 1-3 bulan sebelum tanam. Waktu penanaman yang baik adalah pada awal musim penghujan, yakni sekitar bulan November sampai Desember. Dengan demikian pembuatan lubang tanam sebaiknya dilakukan pada bulan Agustus sampai September. Ukuran lubang tanam yang ideal untuk penanaman pisang adalah 60 x 60 x 50 cm3 untuk tanah yang subur, atau 80 x 80 x 50 cm3 untuk tanah yang kuran subur. Jarak tanamnya adalah 6 x 6 m2 untuk pisang bertajuk lebar, 5 x 5 m2 untuk pisang bertajuk sedang, dan 4 x 4 m2 untuk pisang bertajuk sempit.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan lubang tanam adalah penempatan tanah galiannya. Separuh tanah galian pada bagian atas diletakkan di sebelah kanan lubang dan sisa galian pada tanah bagian bawah diletakkan di sebelah kiri. Tujuannya adalah agar antara tanah lapisan bawah (subsoil) tidak tercampur dengan tanah lapisan atas (topsoil).

Penanaman
Sebulan sebelum penanaman, tanah galian sebaiknya dikembalikan. Tanah bagian bawah (sebelah kiri) dimasukkan terlebih dahulu, kemudian tanah bagian atas dicampur dengan 8-10 kg pupuk kandang untuk lubang tanam berukuran 60 x 60 x 50 cm3 dan 13-15 kg untuk tanam berukuran 80 x 80 x 50 cm3. selanjutnya, lubang tanam dibiarkan selama sebulan, baru kemudian ditanami bibit pisang.
Cara menempatkan / menancapkan bibit sebagai berikut :
A.    Lubang tanam yang tanah galiannya sudah dikembalikan dikuak menggunakan cangkul dengan kedalaman 25 cm, tergantung besar kecilnya bonggol yang ditanam.
B.     Tempatkan bibit pisang pada kuakan tersebut dengan memperhatikan kedalaman tanam. Usahakan agar bonggol pisang tertanam penuh, kira-kira 5 cm di bawah permukaan datar.
C.     Bila kondisi tanah kering, siram dengan air secukupnya.
D.    Padatkan tanah sekeliling pohon itu dengan cara diinjak-injak.

Penyiangan Dan Penggemburan Tanah
Sebelum ditanami pisang, tanah di sekitar pohon pisang harus telah dibersihkan dari rumput pengganggu atau gulma dan digemburkan dengan menggunakan cangkul kecil (koref). Penggemburan tanah tidak boleh terlalu dalam mengingat perakaran pisang yang dangkal. Pekerjaan ini dilakukan sesuai kondisi kebun. Kebun yang banyak sekali ditumbuhi gulma harus sering disiangi, idealnya sekitar 3-4 kali setahun. Bila gulma tidak terlalu banyak, yang diperlukan hanya penggembuaran tanah agar perakaran dan bonggol pisang bisa berkembang dengan baik. Penyiangan bagi tanah bukaan baru yang masih banyak ditumbuhi alang-alang atau rumput liar juga dapat menggunakan herbisida.

Pembumbunan dan Pemupukan
Pembumbunan perlu dilaksanakan bila umbi pisang telah muncul kepermukaan tanah. Demikian juga ketika tanaman pisang telah menghasilkan rumpun atau telah beranak. Hal ini dimaksudkan perakaran bisa berkembang lebih baik sekaligus memperkuat pertumbuhan tanaman pisang. Sementara pemupukan mutlak diberikan untuk menyuburkan tanaman agar lebih produktif. Pupuk yang diberikan meliputi nitrogen, fosfor, dan kalium. Unsur nitrogen berfungsi untuk membuat daun berwarna hijau segar, mempercepat pertumbuhan vegetatif, juga menambah kandungan protein pada buah. Unsur fosfor diperlukan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar sehingga bisa lebih banyak mengambil unsur hara dari dalam tanah. Selain itu fosfor juga berfungsi menjaga tanaman agar tidak mudah roboh, mempercepat pembentukan bunga, dan menambah ketahanan tanaman dari serangan hama penyakit. Sedangkan kalium antara lain berfungsi untuk memperkuat batang tanaman, membantu proses fotosintesis, dan meningkatkan kualitas buah, serta menambah ketahanan tanaman.
Pupuk yang sering diberikan paa tanaman pisang adalah pupuk anorganik dan pupuk organik. Pupuk anorganik yang bisa diberikan berupa 1.000 gram ZA/pohon/tahun, dan 500 gram KCl/pohon/tahun. Pupuk anorganik deberikan selang empat kali setahun, yaitu satu bulan setelah tanam dengan dosis ¼ bagian, kemudian diulangi lagi setiap tiga bulan dengan dosis masing-masing ¼ bagian. Pemberian pupuk anorganik dapat dilakukan dengan cara menyebarkan secara merata pada parit berjarak 60-75 cm disekeliling tanaman, setelah itu parit dibumbun. Sedangkan pupuk organik yang bisa diberikan berupa pupuk kandang dengan dosis 2-3 kaleng minyak tanah/rumpun/tahun. Pupuk itu diberikan setiap tahun dimulai pada bulan pertama penanaman dan tiap tiga bulan dengan dosis pemberian masing-masing ¼ bagian.

Pemberian Air
Walaupun perakaran tanaman pisang dangkal dan dekat dengan permukaan tanah, tanaman ini dikenal tahan terhadap kekeringan atau kekurangan air. Hal ini karena perakarannya banyak mengandung air. Namun, kondisi ini sebenarnya bisa membuat tandan pisang bisa terbentuk pendek dan kecil-kecil. Dari kenyataan ini, para ahli kemudian mencoba mangairi tanaman pisang pada waktu musim kemarau dan hasilnya tidak mengecewakan, yakni tandan buahnya tumbuh panjang dan buahnya juga besar-besar. Oleh karena itu, pemberian air pada waktu musim kemarau perlu sekali dilakukan, terutama bila tanaman sedang dalam masa berbunga atau berbuah. Dalam pemberian air, tentunya tetap harus memperhatikan kondisi tanah yang akan diairi. Bila terlihat kering, segera lakukan pengairan. Sebagai patokan, di musim kemarau pemberian air sebaiknya dilakukan minimal sebulan sekali, tujuannya tak lain untuk menjaga kelembapan tanah.

Perlakuan Masa Berbunga
Bunga pisang yang biasa disebut jantung pisang memiliki sosok yang sangat kompak dan kuat. Demikian pula tangkainya yang menjadi tempat bergantung sisir-sisir buah pisang. Daun pelindung bunga atau seludang bagian luar berwarna merah tua sedangkan dibagian dalam akan semakin pucat. Bila jantung sudah muncul, secara bertahap akan mengeluarkan sisir buahnya dan seludangnya pun akan berguguran sesuai dengan keluarnya sisir.
Dalam satu rangkaian bunga, bisa diketahui bunga mana yang akan menjadi buah atau tidak. Rangkaian bunga pada pangkal adalah bunga betina dan akan berkembang menjadi buah, rangkaian bunga pada bagian tengah adalah bunga sempurna yang juga bisa jadi buah, sedangkan rangkaian bunga yang berada dibagian pucuk adalah bunga jantan dan tidak bisa berkembang jadi buah.
Pada suatu titik waktu, sisir buah pisang yang terbentuk akan berhenti muncul, tetapi tangkai jantung akan terus memanjang. Bila panjang tangkai jantung telah mencapai 15-25 cm, pertanda sudah saatnya jantung pisang dipotong karena sudah tidak bisa menghasilkan sisir buah lagi. Pemotongan jantung pisang bisa menambah berat buah sekitar 5 % dibandingkan dengan tidak dipotong.
Setelah pemotongan jantung dilakukan, pemupukan buah dilakukan secara susuan agar buah yang dihasilkan penuh berisi. Caranya adalah sebagai berikut :
A.    Buatlah adonan urea dicampur tanah (1 sendok makan urea : 2 kepalan tangan tanah orang dewasa).
B.     Campuran urea dan tanah dibasahi air sedikit dan diaduk merata sampai terbentuk seperti adaonan.
C.     Adonan kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik dan diikatkan pada tangkai buah yang telah dipotong jantungnya. Dengan cara ini buah yang dihasilkan akan lebih berisi.

Perlakuan Masa Berbuah
Bila ada pisang berbuah tanpa daun, mungkin orang keheranan sehingga menyebutnya sebagai pisang ajaib. Sebenarnya pisang ini bukanlah ajaib, melainkan tanaman pisang yang telah direkayasa sehingga ketika tanaman pisang dipotong, batang semunya masih bisa berbunga dan berbuah.
Rekayasa pisang tanpa daun ini mudah diterapkan, asalkan tanggal penanaman bibit pisang harus dicatat. Untuk menentukan saat tanaman berbunga, tanggal penanaman tersebut kemudian ditambah 8-12 bulan (sesuai jenis pisang). Penjumlahan tanggal tersebut merupakan saat yang tepat untuk memotong batang semu pisang.
Dengan mengetahui kapan persisnya umur tanaman pisang mulai mengeluarkan kuncup bunga, juga dapat diketahui saat pemotongan yang tepat. Tinggi pemotongan juga sebaiknya disesuaikan dengan tinggi dan jenis pisang.
Ketinggian pemotongan batang semu dari permukaan tanah kurang lebih 1-2 meter, tergantung jenisnya. Jenis pisang bertandan buah panjang, pemotongannya dilakukan 2 meter dari permukaan tanah, sedangkan untuk jenis pisang bertandan buah pendek bisa dipotong 1-1,5 meter dari permukaan tanah. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai tandan buah tergeletak di tanah. Bila sampai tergeletak di atas tanah, kemungkinan besar pisang akan menjadi busuk sebelum dipanen.
Masalah dalam pemotongan batang semu ini adalah perkembangan buah terganggu. Hal ini karena daun yang semestinya untuk fotosintesis sudah tidak ada lagi. Karena itu, translokasi makanan dari daun menuju buah sudah tidak ada lagi. Karena itu, translokasi makanan dari daun menuju buah tidak ada, sedangkan yang ada hanyalah translokasi makanan dari organ-organ yang masih berkrolofil dengan jumlah yang sedikit. Hal itu harus diatasi dengan pemberian pupuk urea dibungkus plastik yang diletakkan pada pucuk tandan buah, seperti masa berbunga.
Keuntungan yang didapat bila kita melakukan rekayasa pemotongan batang semu tanaman adalah buah berada di bawah sehingga mudah dipanen. Selain itu, pisang akan berbuah lebih awal. Karena setelah tanaman menginjak umur berbunga, keluarnya kuncup bunga dari batang bawah memerlukan waktu rata-rata 8 cm per hari, sehingga bila ketinggian yang ditempuh hanya 1-2 m, lamanya jantung keluar hanya 12,5-18,75 hari. Oleh karena itu, pemasakan buah akan terjadi lebih awal.

G.    PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PISANG
Pengendalian Hama Pisang
Jenis-jenis hama yang umum menyerang tanaman pisang antara lain ulat gulung, uret, kumbang penggerek umbi, nematoda, kepik penggerek batang, ulat buah, kumbang daun pisang, kudis buah pisang, lalat buah pisang, ngengat buah pisang, lalat buah pisang, kutu daun pisang, bekicot, dan codot.
1.      Ulat Gulung
Gejala
Daun terpotong-potong karena tergulung. Jika dibiarkan tanaman akan menjadi gundul dan hanya tampak tulang daun saja
Penyebab
Penyebabnya adalah ulat Erionota tharax yang kulit luarnya berwarna hijau muda seperti daun dan biasanya tertutup oleh lapisan tepung berwarna putih.
Pengendalian
Pengendalian hama ini 3 cara, cara pertama dengan mengumpulkan telur, ulat, dan daun yang tergulung di dalam daun, kemudian dilenyapkan. Cara kedua dengan menyobek daun pisang muda agar ulat tidak bisa menggulung daun tersebut. Dan cara ketiga adalah dengan menyemprotkan cairan insektisida beracun kontak maupun beracun perut.

2.      Uret
Gejala
Batang tampak berlubang hingga umbi bagian bawah. Gejala ini bisa tampak pada anakan pisang dan bibit yang masih muda.
Penyebab
Penyebabnya adalah hama uret yang sering menyerang daerah berdataran tinggi.
Pengendalian
Mengendalikan hama ini adalah dengan menyelupkan bibit pisang ke dalam larutan insektisida selama 15 menit.

3.      Kumbang Penggerek Umbi
Gejala
Umbi dan batang tampak berlubang. Daun menjadi kuning dan layu. Pertumbuhan tanaman terhambat. Buah menjadi kecil-kecil dan tanaman mengerdil, bahkan batang membusuk.
Penyebab
Penyebabnya adalah Cosmopolites sordidus.
Pengendalian
Untuk mencegah serangan hama ini, kebersihan di sekitar tanaman harus tetap terjaga.

4.      Nematoda
Gejala
Tanaman menjadi kerdil, akar tampak berbintik-bintik gelap, pusat umbi menjadi gelap warnanya dan membusuk, serta buah menjadi sedikit dan kecil-kecil.
Penyebab
Penyebabnya adalah nematoda Radopholus similis.
Pengendalian
Untuk mencegah nematoda ini adalah dengan mengusahakan kehadiran cacing gelang di sekitar tanaman, cacing ini bisa menghambat perkembangan nematoda.
5.      Kepik Penggerek Batang
Gejala
Batang pisang tampak berlubang-lubang sehingga menjadi lemah dan membusuk dan mudah patah bila tertiup angin kencang.
Penyebab
Penyebabnya adalah kepik Odoiporus longicollis. Panjang hama ini bisa mencapai 14 mm. Warnanya hitam dan perisai sayap terlihat beralur-alur dan berwarna agak keabuan.
Pengendalian
Hama ini dapat hidup dan berkembang baik pada tumbukan serasah yang membusuk. Oleh karena itu, lingkungan disekitar tanaman harus selalu terjaga kebersihannya.

6.      Ulat Buah
Gejala
Buah yang tua akan memperlihatkan bentuk yang sangat jelek, yakni ditandai dengan adanya noda-noda hita kelabu yang keras.
Penyebab
Penyebabnya adalah ulat buah pisang. Panjangnya sekitar 25 mm. Ulat ini berwarna merah muda dengan kepala berwarna hitam.
Pengendalian
Untuk mencegah serangannya, sebaiknya dibuat adonan berupa campuran piretrum dan bubuk kapur (1:3). Adonan tersebut kemudian ditaburkan pada buah dengan menggunakan alat penghembus. Cara ini diulang setiap 4-6 hari sekali.

7.      Kumbang Daun Pisang
Gejala
Tanaman seperti tidak berdaun, tampak hanya pelepahnya saja. Terkadang tanaman tegak berdiri tanpa tangkai daun.
Penyebab
Penyebabnya adalah kumbang Exopholis hypoceuca. Ukuran hama ini sebesar biji salak dengan sayap luar berwarna cokelat agak mengkilap. Bagian tubuhnya tampak seperti dilapisi kapur putih. Ujung perutnya runcing tanpa tertupi sayap luar.
Pengendalian
Cara mengendalikannya adalah dengan memberantasnya dengan cara mengupulkan larva yang ada di dalam tanah dan kemudian membunuhnya.

8.      Ngengat Buah Pisang
Gejala
Buah tampak seperti memiliki tato atau kudis sehingga kulit pisang menjadj kasar.
Penyebab
Penyebabnya adalah ngengat Nicoleia octacema. Hama ini menyerang bunga dan buah yang masih muda dan biasanya pada malam hari.
Pengendalian
Upaya pengendalian hama ini adalah dengan cara menyemprotkan insektisida pada jantung pisang yang telah terbuka seludangnya.
9.      Lalat Buah Pisang
Gejala
Daun buah mengalami perubahan bentuk atau malformasi dan kemungkinan dapat menyebabkan buah gugur.
Penyebab
Penyebabnya adalah lalat Dacus dorsilis yang bersifat aktif sepanjang tahun dan berpindah-pindah dari tanaman inang yang satu ke tanaman inang yang lain.
Pengendalian
Untuk pengendaliannya yaitu dengan cara memusnahkan buah pisang yang terserang, sedangkan tanah disekitarnya dicangkul agar kepompong yang ada bisa terbunuh oleh cahaya matahari.

10.  Kutu Daun Pisang
Gejala
Daun-daun tampak berkerut, kerdil, dan menggulung. Buah menjadi kecil-kecil dan terkadang terpeluntir (disrotsi).
Penyebab
Penyebabnya adalah kutu daun Pentaloria nigranervosa. Ukuran tubuhnya kecil (sekitar 1-2 mm) berwarna cokelat. Pada tubuhnya terdapat sepasang antena panjang.
Pengendalian
Upaya pengendaliannya adalah dengan cara menyemprotkan insektisida sistemik pada tanaman yang terserang.
11.  Bekicot
Gejala
Tanaman berubah menjadi kering, layu dan akhirnya mati. Di sekitar tanaman terdapat tanda bekas jejak berwarna keperakan mengkilap.
Penyebab
Penyebabnya adalah bekicot (Achatina fulica) yang menyerang tanaman pada malam hari.
Pengendalian
Upaya pengendaliannya adalah dengan cara mengumpulkan bekicot, kemudian dibunuh.
12.  Codot
Gejala
Buah pisang tampak digerogaoti isinya. Hampir seluruh buah yang masak tidak dapat dipanen lagi sehingga produksinya menurun.
Penyebab
Penyebabnya adalah codot (Cynoptems sphinx) yang bentuknya serupa dengan kelelawar, tetapi besarnya hanya segenggaman tangan orang dewasa.
Pengendalian
Codot dibunuh dengan menggunakan senapang angin yang dilakukan pada siang hari ketika hama ini sedang tertidur lelap.
Pengendalian Penyakit Pisang
Penyakit yang sering menyerang antara lain penyakit darah, penyakit sigatoga, penyakit pembuluh jawa, penyakit kerdil, dan penyakit layu fusarium.
1.      Penyakit Darah
Gejala
Mulai daun muda ke-3 atau ke-4 akan nampak berubah warna. Pada kondisi ini, tulang daun akan keluar garis-garis cokelat kekuningan menuju kearah tepi daun dan akhirnya menjadi kuning. Dalam waktu yang singkat daun-daun berubah warna menjadi cokelat. Buahnya berwarna kuning cokelat seperti dipanggang dan kemudian membusuk.
Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas celebencis Guam.
Pengendalian
Untuk mencegah penyakit ini diusahakan selalu menggunakan bibit yang sehat. Selain itu, pengairan pun harus terjaga dengan baik dan pemeliharaan tanaman serta pemberian pupuk harus optimal agar tanaman tumbuh subur  dan kuat.
2.      Penyakit Sigatoga
Gejala
Daun ke-3 dan ke-4 tampak berbintik-bintik kuning atau hijau kecokelatan yang memanjang sejajar dengan tulang daun. Bercak ini lama kelamaan akan berubah menjadi cokelat tua sampai hitam. Pada daun yang lebih tua, pusat bercak menjadi kuning yang akhirnya menjadi kelabu muda dengan tepi cokelat gelap.
Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Cercospora musae Zimmn. atau Mycosphacrella musicola Mul.
Pengendalian
Area penanaman pisang sebaiknya dijaga kebersihannya dengan cara memusnahkan setiap daun kering akibat penyakit ini. Kesuburan tanah diperhatikan dengan pemupukan yang optimal, dan pengairan harus baik. Jumlah anakan yang berlebihan harus dihindari dan selalu dilakukan pengurangan anakan secara teratur. Selain itu penggunaan fungisida sangat dianjurkan.
3.      Penyakit Pembuluh Jawa
Gejala
Gejalanya antara lain perkembangan pupus daun sangat lambat, bahkan bisa terhenti. Selain itu, upih daun sebelah luar terbelah membujur dan membuat daun cepat rusak atau patah dan layu. Gejala lain dapat diketahui bila akar dipotong, yakni akan tampak berkas-berkas pembuluh yang mengeluarkan cairan berwarna kemerahan.
Penyebab
Penyebabnya adalah bakteri Pseudomonas musae Gaumann.
Pengendalian
Pengendalian penyakit ini hanya dengan menggunakan fungisida.
4.      Penyakit Kerdil
Gejala
Tulang daun sekunder ke-2 dan ke-3 bagian bawah terdapat garis berwarna hijau gelap sempit dan terputus-putus. Garis itu masuk ke tulang induk daun. Pada punggung tulang daun sering terdapat garis hijau tua.
Penyebab
Penyebabnya adalah kutu daun Pentalozia migrovervosa Coq.
Pengendalian
Bibit yang akan digunakan hendaknya jangan diambil dari bibit yang sakit. Jika tanaman yang terserang lebih dari 50 % sebaiknya pertanaman dibongkar dan dimusnahkan saja karena sudah tidak efesien lagi. Penyakit ini dapat dibasmi dengan insektisida sistemik.
5.      Penyakit Layu Fusarium Atau Panama
Gejala
Pada pangkal daun akan tampak bintik-bintik atau garis-garis kuning. Tepi bawah daun berwarna kuning tua, cekelat, dan akhirnya mengering. Selanjutnya pelepah daun patah dan batang palsu terkadang terbelah. Jika batang palsu dan bonggol debelah, akan tampak adanya garis-garis cokelat atau hitam.
Penyebab
Penyebabnya adalah Fusarium oxyporum.
Pengendalian
Untuk mencegahnya serangan penyakit ini, hendaknya menggunakan bibit yang sehat dan terhindar dari luka mekanis serta mendapatkan pengairan yang baik. Sedangkan tanaman yang sudah terserang sebaiknya dibongkar dan dimusnahkan. Untuk mengendalikan penyakit ini, dianjurkan untuk menggunakan nematisida.
H.    PANEN
Ciri dan Umur Panen
Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.

Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah. Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan tanah. Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali. Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.
Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.
Perkiraan Produksi
Belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.
I.       PASCAPANEN
Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.
J.       ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA PISANG
 Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya pisang dengan luasan 1 ha di daerah Jawa Barat pada tahun 1999.
1) Biaya produksi 1 ha pisang dari tahun ke-1 sampai ke-4 adalah:
1. Tahun ke-1 Rp. 5.338.000,-
2. Tahun ke-2 Rp. 4.235.000,-
3. Tahun ke-3 Rp. 4.518.000,-
4. Tahun ke-4 Rp. 4.545.300,-
2) Penerimaan tahun ke I sampai IV *)
1. Tahun ke-1: 0,8 x 1.000 tandan Rp. 6.000.000,-
2. Tahun ke-2: 0,8 x 2.000 tandan Rp. 12.000.000,-
3. Tahun ke-3: 0,8 x 2.000 tandan Rp. 12.000.000,-
4. Tahun ke-4: 0,8 x 2.000 tandan Rp. 12.000.000,-
3) Keuntungan
1. Keuntungan selama 4 tahun penanaman Rp. 23.363.700,-
2. Keuntungan/tahun Rp. 5.840.925,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. Output/Input rasio = 2,150
Keterangan : *) perkiraan harga 1 tandan Rp. 7.500,-

Gambaran Peluang Agribisnis
`     Perkebunan pisang yang permanen (diusahakan terus menerus) dengan mudah dapat ditemukan di Meksiko, Jamaika, Amerika Tengah, Panama, Kolombia, Ekuador dan Filipina. Di negara tersebut, budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung oleh kultur teknis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang memenuhi standard internasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin diabaikan.
Permintaan pisang dunia memang sangat besar terutama jenis pisang Cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. Selain berpeluang dalam ekspor pisang utuh, saat ini ekspor pure pisang juga memberikan peluang yang baik. Pure pisang biasanya dibuat dari pisang cavendish dengan kadar gula 21-26 % atau dari pisang lainnya dengan kadar gula < 21%. Di Indonesia pisang hanya ditanam dalam skala rumah tangga atau kebun yang sangat kecil. Standard internasional perkebunan pisang kecil adalah 10-30 ha. Angka ini belum dicapai di Indonesia. Tanah dan iklim kita sangat mendukung penanaman pisang, karena itu secara teknis pendirian perkebunan pisang mungkin dilakukan.
 STANDAR PRODUKSI
Ruang Lingkup
Standar ini meliputi: klasifikasi dan, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan cara pengemasan.
Diskripsi
Standar buah pisang ini mengacu kepada SNI 01-4229-1996.
Klasifikasi dan Standar Mutu\
a) Tingkat Ketuaan Buah (%): Mutu I=70-80; Mutu II <70 & >80
b) Keseragaman Kultivar: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam
c) Keseragaman Ukuran: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam
d) Kadar kotoran (% dalam bobot kotoran/bobot): Mutu I=0; Mutu II= 0
e) Tingkat kerusakan fisik/mekanis (% Bobot/bobot): Mutu I=0; Mutu II=0
f) Kemulusan Kulit (Maksimum): Mutu I=Mulus; Mutu II=Mulus
g) Serangga: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas
h) Penyakit: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas
Adapun persyaratan berdasarkan klasifikasi pisang adalah sebagai berikut:
a) Panjang Jari (cm): Kelas A 18,1-20,0; Kelas B 16,1-18,0; Kelas C 14,1-16,0
b) Berat Isi (kg): Kelas A > 3,0; Kelas B 2,5-3,0; Kelas C < 2,5
c) Dimeter Pisang (cm): Kelas A 2,5; Kelas B > 2,5; Kelas C < 2,5
Untuk mencapai dan mengetahui syarat mutu harus dilakukan pengujian yang meliputi :
a) Penentuan Keseragaman Kultivar.
Cara kerja dari pengujian adalah ; Hitung jumlah dari seluruh contoh buah pisang segar, amati satu persatu secara visual dan pisahkan buah yang tidak sesuai dengan untuk kultivar ang besangkutan. Hitung jumlah jari buah pisang yang tidak sesuai dengan kultivar tersebut. Hitung persentase jumlah jari buah pisang yang dinilai mempunyai bentuk dan warna yang tidak khas untuk kultivar yang bersangkutan terhadap jumlah jari keseluruhannya.
b)      Penentuan Keseragaman Ukuran Buah.
Ukur panjang dari setiap buah contoh dan dihitung mulai dari ujung buah sampai pangkal tangkai dari seluruh contoh uji dengan menggunakan alat pengukur yang sesuai. Ukur pula garis tengah buah dengan menggunakan mistar geser. Pisahkan sesuai dengan penggolongan yang dinyatakan pada label di kemasan.
c)      Penentuan Tingkat Ketuaan.
Perhatikan sudut-sudut pada kulit buah pisang segar. Buah yang tidsak bersudut lagi (hampir bulat) berati sudah tua 100%, sedangkan yang masih sangat nyata sudutnya berarti tingkat ketuaan masih 70% atau kurang.
d)     Penentuan Tingkat Kerusakan Fisik/Mekanis
Hitung jumlah jari dari seluruh contoh buah pisang. Amati satu persatu jari buah secara visual dan pisahkan buah yang dinilai mengalami kerusakan mekanis/fisik berupa luka atau memar. Hitung jumlah yang rusak lalu bagi dengan jumalh keseluruhannya dan dikalikan dengan 100%.
e)      Penentuan Kadar Kotoran
Timbang seluruh contoh buah yang diuji, amati secara visual kotorang yang ada, pisahkan kotoran yang ada pada buah dan kemasannya seperti tanah, getah, batang, potongan daun atau benda lain yang termasuk dalam istilah kotoran yang menempel pada buah dan kemasan, lalu timbang seluruh kotorannya. Berat kotoran per berat seluruh contoh buah yang diuji kali dengan 100%.
Pengambilan Contoh

Satu partai/lot buah pisang segar terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh diambil secara acak sebanyak jumlah kemasan.
a) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 1–5 : contoh semua
b) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 6–100 : contoh : sekurangkurangnya 5
c) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 101–300 : contoh sekurangkurangnya 7
d) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 301–500 : contoh sekurangkurangnya 9
e) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 501–1000 : contoh sekurangkurangnya 10
Pengemasan
Untuk pisang tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg. Kardus dapat dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang. Sebelum pisang dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardus dengan lembaran plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang dengan plastik tersebut. Dapat saja kelompok (cluster) pisang dibungkus dengan plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke dalam kardus karton. Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain:
a) Produksi Indonesia
b) Nama kultivar pisang
c) Nama perusahaan/ekspotir
d) Berat bersih
e) Berat kotor
f) Identitas pembeli
g) Tanggal panen
h) Saran suhu penyimpanan/pengangkutan.
            Biaya per hektar Rp 50.000.000,- tersebut untuk skala minimal 10 hektar. Kalau kebun yang akan dibuka hanya 5 hektar atau malahan hanya 2 hektar, maka biaya per hektarnya akan jatuh lebih tinggi lagi. Sebaliknya apabila kita akan membuka sampai 50 hektar, maka biayanya akan menurun, meskipun angka nominal penurunannya tidak terlalu besar. Hasil pisang 1.500 tandan, dihitung rata-rata 6 sisir per tandan dengan berat per sisir 2,5 kg dan dengan harga rata-rata  Rp 1.200,- Hingga pendapatan per tanaman adalah Rp Rp 1.200,- X 2.5 X = Rp 18.000,- Hasil per hektarnya dikalikan 1.500,- menjadi Rp 36.000.000,- Pada tahun II dst. hasil ini akan meningkat menjadi 3 X lipat yakni Rp 108.000.000,- tetapi biaya pupuk dan pestisida juga akan naik menjadi Rp 15.000,- X 1.500 per hektar atau Rp 22.500.000,- Secara ringkas, dengan skala minimal 10 hektar, dengan biaya Rp 500.000.000,- suku bunga 20% dan grace period 1 tahun, maka dalam waktu 4 tahun pinjaman untuk budidaya pisang ini sudah bisa dilunasi. Jadi sebenarnya peluang tersebut masih cukup baik.
K.    KESIMPULAN
1.      Pisang berasal dari daerah Asia Tenggara, lalu menyebar hampir merata keseluruh dunia. Sementara itu sentra produksi dari pisang adalah di Negara Indonesia.
2.      Pisang dapat tumbuh di iklim tropis basah, lembab, dan panas. Angin yang terlalu kencang dapat merusak pertumbuhan pisang. Curah hujan yang optimal 1.520-3.800 mm/tahun. Pisang dapat tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl.
3.      Yang perlu diperhatikan dalam budi daya tanaman pisang meliputi :Syarat tumbuh, Pemeliharaan dan penyedian bibit, Pembuatan lubang tanam, Penanaman, Penyiangan dan penggemburan tanah, Pembumbunan dan pemupukan, Pemberian air, Perlakuan masa berbunga, Perlakuan masa berbuah, Pengendalian hama pisang, Pengendalian penyakit pisang.
4.      Jenis-jenis hama yang dapat menyerang pisang adalah : Ulat gulung, Uret, Kumbang penggerek umbi, Nematoda, Kepik penggerek batang, Ulat buah, Kumbang daun pisang, Ngengat buah pisang, Lalat buah pisang, Kutu daun pisang, Bekicot, codot.
5.      Jenis-jenis penyakit yang dapat menyerang pohon pisang adalah : Penyakit darah, Penyakit sigatoga, Penyakit pembuluh jawa, Penyakit kerdil, Penyakit layu fusarium atau panama.
DAFTAR PUSTAKA

Gerbang Pertanian. 2010. Budidaya Pisang. http://gerbangtani.blogspot.com/2010/08/budidaya-pisang.html

Supriadi, A. dan Suyanti. 2008 (Edisi Revisi). PISANG, Budi Daya, Pengolahan, dan Prospek Pasar. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ismunandar. 1990. Bertanam Pisang. C.V. Sinar Baru. Bandung

Rismunandar. 1990. Membudidayakan Tanaman Buah-buahan. C.V. Sinar Baru. Bandung.

Stover, R.H & N.W. Simmonads. 1993. Banana. Tropical Agriculture Series. Longman Scientific and Technical. New York.

Hendro Soenarjono. 1998. Teknik Memanen Buah Pisang agar Berkualitas Baik. Trubus no. 341.

Diposting oleh heri kurnianto Rabu, 22 Desember 2010 0 komentar

Hampir semua diantara kita pernah mendengar kata pestisida, herbisida, insektisida atau nama lainnya. Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak emb lepas dari pestisida dalam berbagai bentuknya. Dari gunung sampai pantai, dari desa sampai kota. Petani di pegununganpun tidak lepas dari penggunaan pestisida. Petani sayuran di Dieng, Kopeng, atau petani tembakau di lereng gunung Sindoro dan Sumbing. Nelayan dalam pembuatan ikan asin misalnya, ada yang menggunakan pestisida. Tentunya cara ini tidak dibenarkan, namun demikian adanya masyarakat kita. Pemakaian pestisida di rumah tangga seperti penggunaan obat nyamuk, anti rayap / ngengat, pengusir nyamuk (embere) dan banyak lagi macamnya. Untuk itulah kita perlu mengenal lebih jauh tentang pestisida.
Penggunaan pestisida dalam pembangunan di berbagai ember seperti pertanian, kesehatan masyarakat, perdagangan dan embere semakin meningkat. Pestisida terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pada bidang pertanian termasuk pertanian rakyat maupun perkebunan yang dikelola secara emberenal dalam skala besar menggunakan pestisida yang sebagian besar adalah golongan organofosfat. Demikian pula pada bidang kesehatan masyarakat pestisida yang digunakan sebagian besar adalah golongan organofosfat. Karena golongan ini lebih mudah terurai di alam. Penggunaan pestisida di bidang pertanian saat ini memegang peranan penting. Sebagian besar masih menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama sangat efektif. Pestisida adalah bahan yang beracun dan berbahaya, yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak embere yang tidak diinginkan. Dampak embere tesebut akan menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung ataupun tidak, akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia seperti keracunan. Dampak embere yang terjadi dari penggunaan pestisida pada pengendalian hama adalah keracunan, khususnya para petani yang sering / intensif menggunakan pestisida.
Penggunaan pestisida di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut Atmawijaya, pada tahun 1985 diperkirakan menggunakan 10.000 ton pestisida, pada tahun 1991 meningkat menjadi 600.000 ton. Jumlah ini mencapai 5 % konsumsi dunia. Keracunan pestisida terjadi di banyak ember seperti di Turki, Pakistan Barat, Iraq dan Guatemala. Keracunan makanan yang terkontaminasi pestisida parathion seperti tepung dan gula ditemukan diberbagai ember. (Philp, 1995) Di ember lain seperti di Afrika Selatan pernah dilaporkan 10.000 orang meninggal dunia akibat keracunan kronis organofosfat tahun 1959. Di Amerika Selatan ribuan orang mengalami kelumpuhan pada tahun 1978.
Di Indonesia juga banyak terjadi kasus keracunan antara lain di Kulon Progo terdapat 210 kasus keracunan dengan pemeriksaan fisik dan klinis, 50 orang diantaranya diperiksa laboratorium dengan hasil 15 orang (30 %) keracunan, di Kabupaten Sleman dilaporkan dari 30 orang petugas pemberantas hama 14 orang (46,66 %) mengalami gejala keracunan. Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan terhadap dampak embere akibat penggunaan pestisida, perlu adanya upaya pengawasan pengamanan pestisida. Upaya pengamanan pestisida ditujukan untuk mencegah dan menanggulangi dampak embere penggunaan pestisida terhadap kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan melalui usaha-usaha pengawasan terhadap penggunaan pestisida dan pengendalian terhadap pencemaran dan keracunan pestisida.
Salah satu penggunaan pestisida yang cukup banyak adalah di bidang pertanian dan kesehatan. Di Bidang Pertanian, penggunaan pestisida banyak dipakai untuk memberantas hama pada tanaman buah, sayur dan sebagainya. Akhir-akhir ini penggunaan pestisida pada tanaman sayuran juga cukup tinggi. Para petani yang dulu tidak banyak mengenal pestisida, sekarang sudah akrab dan intensif mengguanakannya (Handojo, 2009).

Pengertian Pestisida
            Pengertian Pestisida Secara harfiah pestisida berarti pest killing agent atau bahan pembunuh hama. (Tan Malaka, 1994) Pengertian menurut Sub Dit P2 Pestisida (1990), adalah semua bahan kimia, binatang maupun tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan hama. Pengertian lain tentang pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus digunakan untuk:
- memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman.
- memberantas rerumputan
- mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
- mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman.
- memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan.
- memberantas atau mencegah hama-hama air.
- memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah, alat-alat   angkutan, dan alat-alat pertanian.
- memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada
manusia atau binatang yang dapat menyebabkan penyakit yang perlu dilindungi.
(Syamsuir Munaf, 1997, Depkes RI, 1985)
            Menurut The United States Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah :
- Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang mengerat, embere, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama, kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang.
- Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman. Penamaan pestisida dalam rangka memudahkan dalam membedakan jenisnya dibagi menjadi tiga : (Syamsuir Munaf, 1997).
            Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), embere dan virus, kemudian embere (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan (Anonim, 2010).

Peranan Pestisida
Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan ember (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.
Pada umumnya pestisida yang digunakan untuk pengendalian jasad pengganggu tersebut adalah racun yang berbahaya, tentu saja dapat mengancam kesehatan manusia. Untuk itu penggunaan pestisida yang tidak bijaksana jelas akan menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia, sumber daya hayati dan lingkungan pada umumnya.
Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama tanaman. Dalam konsep Pengendalian Terpadu Hama, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian. Prinsip penggunaannya adalah:
* harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti komponen hayati
* efisien untuk mengendalikan hama tertentu
            * meninggalkan residu dalam waktu yang tidak diperlukan
            * tidak boleh persistent, jadi harus mudah terurai
            * dalam perdagangan (transport, penyimpanan, pengepakan, labeling) harus
              memenuhi persyaratan keamanan yang maksimum
           * harus tersedia antidote untuk pestisida tersebut
           * sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota
           * embere aman bagi pemakai (LD50 dermal dan oral embere tinggi)
           * harga terjangkau bagi petani. 
Idealnya teknologi pertanian maju tidak memakai pestisida. Tetapi sampai saat ini belum ada teknologi yang demikian. Pestisida masih diperlukan, bahkan penggunaannya semakin meningkat. Pengalaman di Indonesia dalam menggunakan pestisida untuk program intensifikasi, ternyata pestisida dapat membantu mengatasi masalah hama padi. Pestisida dengan cepat menurunkan populasi hama, hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil karena hama dapat ditekan.
Pengalaman di Amerika Latin menunjukkan bahwa dengan menggunakan pestisida dapat meningkatkan hasil 40 persen pada tanaman coklat. Di Pakistan dengan menggunakan pestisida dapat menaikkan hasil 33 persen pada tanaman tebu, dan berdasarkan catatan dari FAO penggunaan pestisida dapat menyelamatkan hasil 50 persen pada tanaman kapas.
Dengan melihat besarnya kehilangan hasil yang dapat diselamatkan berkat penggunaan pestisida, maka dapat dikatakan bahwa peranan pestisida sangat besar dan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam bidang pertanian. Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan menerapkan berbagai teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan dan pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem yang sering diikuti oleh meningkatnya problema serangan jasad pengganggu. Demikian pula usaha ekstensifikasi pertanian dengan membuka lahan pertanian baru, yang berarti melakukan perombakan ekosistem, sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad pengganggu. Dan tampaknya saat ini yang dapat diandalkan untuk melawan jasad pengganggu tersebut yang paling manjur hanya pestisida. Memang tersedia cara lainnya, namun tidak mudah untuk dilakukan, kadang-kadang memerlukan tenaga yang banyak, waktu dan biaya yang besar, hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat diharapkan efektifitasnya. Pestisida saat ini masih berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil yang disebabkan oleh jasad pengganggu.


Macam-Macam Contoh dan Nama Pestisida
Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam dengan berdasarkan fungsi dan asal katanya. Penggolongan tersebut disajikan sbb.:
* Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga      disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.
* Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan        alge.
* Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh atau      zat penolak burung serta pengontrol populasi burung.
* Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi untuk melawan bakteri.
* Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani  yang berarti jamur. Berfungsi untuk membunuh          jamur atau cendawan.
* Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi membunuh gulma (tumbuhan    pengganggu).
* Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, atau segmen tubuh. Berfungsi untuk              membunuh serangga.
* Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva.
* Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk            membunuh siput.
* Nematisida, berasal dari kata latin atau bahasa Yunani nema yang berarti benang. Berfungsi untuk membunuh   (semacam cacing yang hidup di akar).
* Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur.
* Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
* Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk
   membunuh ikan.
* Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi untuk membunuh binatang          pengerat, seperti tikus.
* Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi untuk membunuh pemangsa         (predator).
* Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.
* Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi untuk membunuh    rayap. 
Berikut ini beberapa bahan kimia yang termasuk pestisida, namun namanya tidak menggunakan akhiran sida:
* Atraktan, zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga menjadi tertarik. Sehingga dapat digunakan      sebagai penarik serangga dan menangkapnya dengan perangkap.
* Kemosterilan, zat yang berfungsi untuk mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang.
* Defoliant, zat yang dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen, digunakan pada        tanaman kapas dan kedelai.
* Desiccant. Zat yang digunakan untuk mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya.
* Disinfektan, zat yang digunakan untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme.
* Zat pengatur tumbuh. Zat yang dapat memperlambat, mempercepat dan menghentikan pertumbuhan                tanaman.
* Repellent, zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang lainnya. Contohnya      kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak nyamuk.
* Sterilan tanah, zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
* Pengawet kayu, biasanya digunakan pentaclilorophenol (PCP).
* Stiker, zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap angin dan hujan.
* Surfaktan dan agen penyebar, zat untuk meratakan pestisida pada permukaan daun.
* Inhibitor, zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas.
* Stimulan tanaman, zat yang berfungsi untuk menguatkan pertumbuhan dan memastikan terjadinya buah.

Cara Pengaplikasian Pestisida
            Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu ember yang penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena penggunaannya tidak benar, maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara, kelembapan dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan partikel pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas, pestisida akan naik bergerak ke atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan mempermudah terjadinya hidrolisis partikel pestisida yang menyebabkan kurangnya daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan pencucian pestisida, selanjutnya daya kerja pestisida berkurang.
Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping berakibat mempercepat timbulnya resistensi.

1. Dosis pestisida
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam label pestisida.

2. Konsentrasi pestisida
Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida
* Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air.
* Konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air.
* Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida, yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan jadi.

3.      Alat semprot
Alat untuk aplikasi pestisida terdiri atas bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume) biasanya kurang dari 5 liter.

2.      Ukuran droplet
Ada bermacam-macam ukuran droplet:
Veri coarse spray
lebih 300 µm        
Coarse spray
400-500 µm
Medium spray
250-400 µm
Fine spray
100-250 µm
Mist
50-100 µm
Aerosol
0,1-50 µm
Fog
5-15 µm

3.      Ukuran partikel
Ada bermacam-macam ukuran partikel:
Macrogranules
lebih 300 µm
Microgranules
100-300 µm
Coarse dusts
44-100 µm
Fine dusts
kurang 44 µm
Smoke
0,001-0,1 µm

6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 µm

Petunjuk Penggunaan Pestisida
1.Memilih pestisida
Di pasaran banyak dijual formulasi pestisida yang satu sama lain dapat berbeda nama dagangnya, walaupun mempunyai bahan aktif yang sama. Untuk memilih pestisida, pertama yang harus diingat adalah jenis jasad pengganggu yang akan dikendahikan. Hal tersebut penting karena masing-masing formulasi pestisida hanya manjur untuk jenis jasad pengganggu tertentu. Maka formulasi pestisida yang dipilih harus sesuai dengan jasad pengganggu yang akan dikendalikan. Untuk mempermudah dalam memilih pestisida dapat dibaca pada masing-masing label yang tercantum dalam setiap pestisida. Dalam label tersebut tercantumjenis-jenis jasad pengganggu yang dapat dikendahikan. Juga tercantum cara penggunaan dan bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan.
Untuk menjaga kemanjuran pestisida, maka sebaiknya belilah pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleb Departemen Pertanian yang dilengkapi dengan wadah atau pembungkus asli dan label resmi. Pestisida yang tidak diwadah dan tidak berlabel tidak dijamin kemanjurannya.

2. Menyimpan pestisida
Pestisida senantiasa harus disimpan dalam keadaan baik, dengan wadah atau pembungkus asli, tertutup rapat, tidak bocor atau rusak. Sertakan pula label asli beserta keterangan yang jelas dan lengkap. Dapat disimpan dalam tempat yang khusus yang dapat dikunci, sehingga anak-anak tidak mungkin menjangkaunya, demikian pula hewan piaraan atau temak. Jauhkan dari tempat minuman, makanan dan sumber api. Buatlah ruang yang terkunci tersebut dengan ventilasi yang baik. Tidak terkena langsung sinar matahari dan ruangan tidak bocor karena air hujan. Hal tersebut kesemuanya dapat menyebabkan penurunan kemanjuran pestisida.
Untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu pestisida tumpah, maka harus disediakan air dan sabun ditergent, beserta pasir, kapur, serbuk gergaji atau tanah sebagai penyerap pestisida. Sediakan pula wadah yang kosong, sewaktu-waktu untuk mengganti wadah pestisida yang bocor.

3. Menggunakan pestisida
Untuk menggunakan pestisida harus diingat beberapa hal yang harus diperhatikan:
* Pestisida digunakan apabila diperlukan
* Sebaiknya makan dan minum secukupnya sebelum bekerja dengan pestisida
* Harus mengikuti petunjuk yang tercantum dalam label
* Anak-anak tidak diperkenankan menggunakan pestisida, demikian pula wanita
hamil dan orang yang tidak baik kesehatannya
* Apabila terjadi luka, tutuplah luka tersebut, karena pestisida dapat terserap melalui luka
* Gunakan perlengkapan khusus, pakaian lengan panjang dan kaki, sarung tangan, sepatu kebun, kacamata, penutup hidung dan rambut dan atribut lain yang diperlukan
* Hati-hati bekerja dengan pestisida, lebih-lebih pestisida yang konsentrasinya pekat.
Tidak boleh sambil makan dan minum
* Jangan mencium pestisida, karena pestisida sangat berbahaya apabila tercium
* Sebaiknya pada waktu pengenceran atau pencampuran pestisida dilakukan di
tempat terbuka. Gunakan selalu alat-alat yang bersih dan alat khusus
* Dalam mencampur pestisida sesuaikan dengan takaran yang dianjurkan. Jangan berlebih atau kurang
* Tidak diperkenankan mencampur pestisida lebih dari satu macam, kecuali dianjurkan
* Jangan menyemprot atau menabur pestisida pada waktu akan turun hujan, cuaca panas, angin kencang dan arah semprotan atau sebaran berlawanan arah angin. Bila tidak enak badan berhentilah bekerja dan istirahat secukupnya
* Wadah bekas pestisida harus dirusak atau dibenamkan, dibakar supaya tidak digunakan oleh orang lain untuk tempat makanan maupun minuman
* Pasanglah tanda peringatan di tempat yang baru diperlakukan dengan pestisida
* Setelah bekerja dengan pestisida, semua peralatan harus dibersihkan, demikian pula pakaian-pakaian, dan mandilah dengan sabun sebersih mungkin.

Petunjuk Keamanan, Pertolongan Pertama pada Keracunan
* Petunjuk Keamanan
o Jangan makan/minum atau merokok pada waktu bekerja.
O Pakailah sarung tangan, pelindung tubuh, topeng muka, gunakan pakaian berlengan panjang /celana panjang serta jauhkan dari nyala api pada waktu membuka wadah dan memindahkan pada waktu bekerja
o Sebelum makan, minum atau merokok dan setelah bekerja, cucilah tangan atau kulit yang terkena insektisida ini dengan air sabun, yang banyak, jangan menggunakan insektisida ini 10 hari sebelum tanaman dipanen untuk tanaman pangan.
o Setelah digunakan cucilah dengan air semua peralatan semprot dan pakaian pelindung jangan mencemari kolam, perairan dan sumber air lainnya dengan insektisida ini atau wadah bekasnya.
O Simpan insektisida ini secara tertutup rapat di tempat sejuk dan kering, jauh dari bahan makanan, api, sumber air dan jangkauan anak-anak.
O Rusakkanlah wadah bekasnya, kemudian tanamlah sekurang-kurangnya 0,5 meter di dalam tanah dan jauh dari sumber air.

* Gejala Dini Keracunan
o Kulit atau mata terasa gatal atau terbakar, pusing, sakit kepala, banyak menimbulkan keringat, mual, mencret,badan gemetar, pingsan.
O Apabila satu atau lebih gejala tersebut timbul, segera berhenti bekerja, lakukan tindakan pertolongan pertama dan pergilah ke Puskesmas/dokter terdekat.

* Petunjuk Pertolongan Pertama pada Keracunan
o Tanggalkan pakaian yang terkena insektisida ini.
O Apabila kulit terkena, segera cuci dengan sabun dan air yang banyak.
O Apabila mata terkena, cucilah segera dengan air bersih selama sedikitnya 15 menit.
o Apabila tertelan dan penderita masih sadar, segera usahakan permuntahan dengan
memberikan segelas air hangat yang diberi 1 sendok garam dapur atau dengan cara menggelitik tenggorokan penderita dengan jari tangan yang bersih sampai cairan muntahan menjadi jernih.
O Jangan ember sesuatu melalui mulut kepada penderita yang pingsan/tidak sadar.
o Apabila terhisap segera dibawa ke ruangan yang berudara sejuk/segar, apabila perlu berikan pernafasan buatan melalui mulut atau dengan pemberian oksigen.

Diposting oleh heri kurnianto Selasa, 11 Mei 2010 0 komentar


Menarik untuk di bahas, itulah yang membuat penulis ingin sekali mengulas sedikit tentang judul di atas.Hal ini terlebih disebabkan karena hilangnya pemahaman tentang bagaimana hakikatnya seorang pemimpin itu di dalam pandangan islam.

Di era saat sekarang ini menjadi pemimpin merupakan sesuatu yang banyak di perebutkan oleh orang-orang, tidak hanya di negara yang menganut faham liberalisme, tetapi di negara-negara yang mayoritas masyarakatnya islam pun merebutkan jabatan tersebut seperti di indonesia misalnya.

Kebanyak orang ingin menjadi pemimpin atas dasar ingin menjadi orang  nomor satu, ingin dihormati, ingin disanjung dan bahkan ada yang ingin ingin memperkaya diri atau dengan alasan-alasan yang lain. Hampir tidak ada satu pemimpin pun di era saat ini yang tulus hatinya benar-benar bekerja untuk rakyat dan bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Yang ada malah tidak peduli dengan apa yang di alami oleh rakyat dan parahnya lagi malah menindas rakyat kecil. 

Benar, penulis salah besar jika langsung menganggap setiap orang yang ingin mencalonkan diri menjadi pemimpin itu mempunyai niat yang buruk. Namun jika kita menilik di negara kita Indonesia ini kemungkinan besar kita semua memiliki pendapat yang sama dan setuju dengan apa yang saya sampaikan tadi. Ya, para pemimpin di Indonesia yang menganut agama islam hampir sebagian besar tidak mewarisi jiwa kepemimpinan Nabi Muhammad dan para Sahabat.

Jika kita kembali merujuk kepada ajaran islam, maka kita akan menyadari bahwa masing-masing kita adalah seorang pemimpin. Hal ini dijelaskan dalam hadits rosul SAW :
"Setiap dari kamu adalah seorang pemimpin, dan setiap pemimpin itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas tiap-tiap apa yang pipimpinnya"

Bagi kita umat islam setidaknya hadits tersebut dapat menjadi peringatan keras, di mana kita seharusnya menjadi pemimpin untuk diri kita sendiri paling utama, dalam arti kita bisa mengendalikan diri kita dari sifat-sifat buruk yang tidak disukai dalam ajaran islam Ketika kita sudah berhasil memimpin diri kita sendiri barulah kita mencoba untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan kita kepaa keluarga dan masyarakat luas atau bahkan memimpin negara.

Mengenai kepemimpinan dalam islam disini penulis mengutip beberapa informasi yang besumber dari media elektronik :
Pemimpin adalah teladan, memiliki kewenangan tanpa menjadi sewenang-wenang.Panduannya dalam Islam sesuai dengan contoh dari Rasulullah SAW. Yang harus ada pada pemimpin adalah sidat-sifat sbb. :
1. 1. Siddiq :
Benar dalam Niat,
Benar dalam perkataan,
Benar dalam berpikir (tidak licik) dan
Benar dalam perbuatan.
2. 2. Amanah :
Terpercaya.
Al-Amin.
Jujur.
Tepat Janji.
Tanggung jawab
3. 3. Fathonah:
Mempunyai wawasan (knowledge) yang luas, berpikir maju
mempunyai skill atau keterampilan yang baik dalam membaca potensi dan memotivasi
4. 4. Tabligh :
Mampu berkomunikasi efektif,
Lebih banyak mendengar omongan orang-orang yang dipimpinnya
Bahasa komunikasinya bisa dimengerti oleh orang-orang yang dipimpinnya. Mudah dihubungi
dan juga mudah untuk dekat siapapun.
Ramah tamah, selalu respek terhadap orang-orang yang dipimpinnya, Mempunyai perimbangan
yang bijak serta selalu bersahabat kepada setiap orang.
Sifat tabligh dalam memimpin juga menuntut untuk selalu berusaha memahami keinginan
orang-orang yang dipimpinnya serta mengetahui kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya.
Sedang berdasarkan pengamatan saya harus dihindari dari seorang pemimpin adalah:
· Lisan tidak terjaga
o Nato ( No Action Talk Only)
o Terlalu banyak bergurau
o Sering berkata keras, kasar dan keji.
o Sering mengobral janji yang tidak ditepati dan sering bersumpah palsu.
· Berdusta atau terbukti berbohong.
· Egois
· Kesombongan
· Tidak tahu etika
· Tidak Adil













Diposting oleh heri kurnianto Kamis, 25 Maret 2010 0 komentar

Pertanian Organik adalah suatu metode produksi pertanian dan peternakan yang lebih memilih untuk tidak menggunakan pestisida tertentu, pupuk kimia, GMO (Genetically Modified Organisms) / Rekayasa Genetik, Antibiotik, dan Hormon Pertumbuhan yang tidak diperbolehkan oleh Standar Organik (Organic Standards) (Canada’s Organic Standards, 2006)

Pertanian
organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, Pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian organik. Sebailknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik.

Dalam prakteknya, pertanian organik dilakukan dengan cara, antara lain:
  1. Menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika (GMO = genetically modified organisms).
  2. Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis. Pengendalian gulma, hama dan penyakit dilakukan dengan cara mekanis, biologis, dan rotasi tanaman.
  3. Menghindari penggunaan zat pengatur tumbuh (growth regulator) dan pupuk kimia sintetis. Kesuburan dan produktivitas tanah ditingkatkan dan dipelihara dengan menambahkan residu tanaman, pupuk kandang, dan batuan mineral alami, serta penanaman legum dan rotasi tanaman.
  4. Menghindari penggunaan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetis dalam makanan ternak.

Diposting oleh heri kurnianto Senin, 22 Maret 2010 0 komentar

Zona Ngombrol


Click here for Myspace Layouts

heri kurnianto. Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe here

Cari Data

Custom Search