Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan

Tanaman seperti halnya mahluk hidup memerlukan makanan/hara untuk hidup dan berkembang biak. Tanaman memperoleh makanan terutama dari cadangan mineral yang ada di dalam tanah yang terkandung dalam bahan organik, limbah organik, bakteri penambat nitrogen, endapan melalui udara, dll. Unsur hara diperoleh tanaman dari tanah diubah menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesa tumbuhan/tanaman
Ketersediaan makanan tumbuhan dipengaruhi oleh kesuburan tanah. Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menyediakan hara dalam jumlah cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan. Definisi ini seringkali dipahami terlalu sempit dengan hanya mempertimbangkan sifat kimia/kesuburan tanah yang hanya menyangkut jumlah dan ketersediaan unsur hara yang dikandung tanah. Konsep kesuburan tanah sebenarnya jauh lebih luas. Aspek keseuburan adalah sifat fisik tanah, kerapatan lindak tanah, kedalam perakaran, struktur dan porositas tanah/kerenggangan tanah/kemampuan meresapkan air.
Untuk mendapatkan kesuburan tanah diperlukan penambahan bahan-bahan yang mengandung unsur hara. Unsur hara organik dapat diperoleh dari sisa hasil panen, bahan yang berasal dari luar usaha, bisa juga berasal dari tanaman kacang-kacangan, dll. Salah satu langkah untuk mengmbalikan kesuburan tanah Usaha pertanian organik seringkali dilakukan dengan mengembalikan sisa hasil  panen ke sawah, namun daur limbah pertanaman ini tidak cukup untuk menggantikan keseluruhan unsur hara yang hilang. Perbaikan kesuburan tanah dapat diusahakan dengan membuat pupuk organik sendiri.
Pupuk organik
Pupuk organik merupakan pupuk yang bahannya berasal dari bahan organik seperti: tanaman, hewan ataupun limbah organik. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik misalnya: jerami, tanaman perdu, tanaman legum, sekam, bekas gergajian kayu, dll. Pupuk organik menjadi bahan untuk perbaikan struktur tanah yang terbaik dan alami. Pemberian pupuk organik pada tanah akan memperbaiki struktur tanah dan menyebabkan tanah mampu mengikat air lebih banyak.
Pupuk organik memiliki ciri-ciri umum memiliki kandungan hara rendah, namun  kandungan hara bervaraiasi tergantung bahan yang digunakan; ketersediaan unsur hara lambat, hara tidak dapat langsung diserap oleh tanaman, memerlukan perobakan atau dikomposisi baru dapat terserap oleh tanaman; jumlah hara tersedia dalam jumlah yang terbatas.
Pengaruh pupuk organik
Meski memiliki kelemahan pupuk organik mempunyai banyak kelebihan dan keuntungan. Penggunaan pupuk organik membuat tanah menjadi gembur sehingga mudah terjadi sirkulasi udara dan mudah ditembus perakaran tanaman. Untuk tanah yang bertekstur pasiran bahan organik akan meningkatkan pengikatan antar partikel tanah dan meningkatkan kemampuan mengikat air. Selain memperbaiki sifat fisik tanah pupuk organik juga memperbaiki sifat kimia tanah, yaitu dengan membantu proses pelapukan  bahan mineral. Bahan organik juga memberikan makanan bagi kehidupan mikrobia dalam tanah. Bahan organik dalam tanah mempengaruhi jumlah mikrobia yang ada dalam tanah.
Berbagai jenis pupuk organik
Dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemui berbagai jenis pupuk organik. Berbagai jenis bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik misalnya:
1. Pupuk  hijau
Pupuk hijau adalah pupuk yang terdiri dari daun-daunan yang mudah membusuk dalam tanah. Daun-daunan dapat langsung dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau. Unsur hara yang terdapat pupuk hijau misalnya: N, P, K, dan unsur lainnya. Contoh pupuk hijau yang mudah didapat adalah sisa hasil pertanian. Sisa hasil pertanian banyak mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Pengembalian sisa tanaman diperlukan untuk mengembalikan unsur-unsur yang diambil tanaman unutk pertumbuhannya kembali lagi ke lahan pertanian. Upaya ini untuk menjaga kesuburan tanah.
Pengembalian sisa tanaman perlu memperhatikan agar proses peruraian bahan organik tidak mengganggu tanaman musim tanam berikutnya. Penanaman tanaman sebaiknya menunggu proses peruraian sempurna. Pada saat proses peruraian bahan organik jika terdapat tanaman bisa menyebabkan tanaman sakit. Perlu diperhatikan agar proses peruraian bahan organik tidak mengganggu kesehatan tanaman. Proses peruraian bahan organik tergantung jenis bahan/sisa tanaman.
a.   Tanaman Legum
Pupuk hijau dapat juga ditanam pada waktu sela antar waktu tanam. Contoh tanaman pupuk hijau adalah tanaman kacang-kacangan. Tanaman kacang-kacangan biasanya mempunyai bintil akar. Dalam bintil akar tersebut hidup bakteri yang dapat menambat N2 dari udara yang diperlukan tanaman. Karena itu, bintil akar dapat disebut sebagai “pabrik” pupuk nitrogen alami. Contoh tanaman ini adalah: kacang tanah, kedelai, kacang hijau, dll. Sebagai contoh, tanaman kedelai dapat menambat nitrogen antara 60-168 kg/ha/tahun; kacang tanah 72-142/ha/tahun.
Tanaman legum atau kacang-kacangan mengandung nitrogen lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman non-legum. Daun tanaman legum dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau diproses menjadi kompos. Daun tanaman legum sebagai pupuk hijau dapat digunakan secara langsung. Selain daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau bahan kompos tanaman legum juga dapat mengikat nitrogen dari udara. Bintil-bintil akar dari tanaman legum mempunyai kandungan nitrogen yang cukup tinggi. Di dalam bintil akar ini hidup bakteri yang mampu menambat N2 dari udara. Karenanya bintil akar pada tanaman legum dapat dipandang sebagai “pabrik” nitrogen (kalau pupuk kimia urea) alami.
Pemanfaatan waktu sela bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman pupuk hijau. Pemanfaatan waktu sela untuk tanaman pupuk hijau lebih baik jika mempertimbangkan sfiat tanaman sebagai berikut:
-     tanaman lokal, sehingga murah dan mudah didapat
-     cepat berkembang biak dan mengandung unsur hara tinggi
-     mudah tumbuh
-     berupa tanaman semusim dan tidak berkayu serta tumbuh subur
-     bisa tumbuh pada lahan yang ada tanpa persiapan lahan. Ditanam dengan cara ditugal atau disebar
-     tanaman tahan terhadap naungan atau tahan terhadap kekeringan
-     mampu menutup tanah dengan baik dan bisa melilit/merambat pada batang/tanggul sisa tanaman di lahan
-     mudah dibenamkan dalam tanah
Dengan kemampuannya menambat nitrogen dari udara tersebut tanaman legum menjadi sumber unsur hara nitrogen bagi ekosistem tanah. Keunggulan lainnya adalah mudah terurai di dalam tanah sehingga mempercepat penyiapan unsur hara bagi tanaman. Conoth legum adalah pupuk hijau lainnya seperti: orok-orok, lamtoro, turi, dadap, sengon laut, crolataria, gamal, kacang tunggak, kacang buncis dll.
b.   Jerami
Jerami pada tanaman padi banyak sekali mengandung unsur nitrogen. Jerami padi merupakan sumber pupuk organik yang tersedia langsung di lahan pertanian. Mengembalikan jerami ke lahan tanaman adalah sama dengan memberikan pupuk ke dalam tanah. Dalam jerami mengandung banyak sekali unusr nitrogen karena sepertiga unsur nitrogen yang terserap tanaman padi tertinggal pada jerami. Ada berbagai macam cara dalam menangani jerami padi. Pertama jerami langsung ditebarkan ke atas lahan kemudian dibajak sehingga jerami bercampur dengan tanah. Atau mengolahnya dahulu menjadi kompos. Dalam jerami setiap 1,5 ton atau setara dengan 1 ton gabah kering mengandung 9 kg nitrogen, 2 kg  Pospor, 25 kg Silikat, 6 kg Calsium, dan 2 kg Magnesium.Penggunaan jerami selain untuk dikembalikan ke dalam tanah sangat merugikan.
Pembakaran jerami tidak adalah sesuatu yang tidak benar. Pembakaran jerami menyebabkan hilangnya 93% unsur nitrogen dan kalium sebesar 20%. Jika jerami ditimbun di pinggir sawah menyebabkan proses penguraian menjadi lambat. Cairan yang dikeluarkan timbunan jerami akan mematikan tanaman di sekitarnya. Timbunan jerami juga dapat menjadi sarang tikus. Dengan mengembalikan jerami akan mengembalikan unsur pospor, besi, dan juga sulfur dan seng.
Cara pengembalian jerami ke lahan adalah dengan membenamkan  pada lahan pertanian satu bulan menjelang tanam. Hal ini unutk mneghindari proses peruraian jerami mengganggu pertumbuhan tanaman. Dengan pembenaman jerami ketersediaan unsur hara dalam tanah akan mneingkat. Namun ada beberapa kendala yang dihadapi dalam memproses jerami menjadi pupuk ini.
1.   penyebaran jerami memerlukan tenaga
2.   menyulitkan pengolahan
3.   dapat terjadi, jerami menjadi sarang serangga
Untuk mengatasi tenaga kerja karenanya dapat dilakukan penyebaran jerami secara langsung ke atas lahan tanaman. Dan mendiamkannya selama 1 minggu agar jerami menjadi busuk. Tetapi cara ini mengurangi kandungan unusr hara dalam jerami.
c.   Sekam padi
Sekam padi dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah dan menambah unusr hara tanah. Penggunaan sekam padi juga akan memperbaiki sifat fisik tanah dengan mengurangi kepadatan tanah. Adanya sekam padi memperluas ketersediaan lengas tanah. Pembenaman sekam secara tidak langsung juga memperbaiki sifat fisik tanah.
d.   Azolla
Azolla merupakan jenis tanaman pakuan yang hidup pada lingkungan perairan dan mempunyai sebaran yang luas. Seperti tanaman legum, tanaman azolla mampu mengikat N2 dari udara. Azolla relatif toleran terhadap kondisi tanah yang asam, sehingga pengembangan azolla tidak memerlukan perlakukan khusus. Azolla merupakan jenis tanaman air yang banyak tumbuh di sawah yang tergenang. Azolla dapat dikembangbiakkan di sebagian petak sawah sebelum ditanami. Karena perkembangan azolla yang cepat ia dapat segera memenuhi seluruh lahan sawah. Azolla mampu berkembang mencapai 100 kali dalam waktu 15 s/d 20 hari. 
Azolla dapat digunakan dengan membenamkannya secara langsung ke dalam tanah. Hal ini disebabkan karena azolla mudah terurai atau terdekomposisi. Bahkan azolla dapat digunakan sesudah masa tanam. Pembenaman azolla akan meningkatkan bahan organik tanah. 5 ton azolla setara dengan nitrogen seberat 30 kg. Karenanya kebutuhan nitrogen untuk tanaman padi dapat digantikan dengan pemanfaatan azolla.
Keunggulan lain dari azolla adalah kemampuannya menekan pertumbuhan gulma air  dan dapat dibudidayakan bersama dengan tanaman padi. Dengan perkembangannya yang cepat azolla menekan pertumbuhan gulma sehingga menekan biaya penyiangan tanaman padi. Namun yang menjadi kendala adalah kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman azolla. Jika masalah air dapat terpenuhi, maka budidaya tanaman azolla tidak menjadi masalah. Sebab tanaman azolla perlu genangan air.
2. Pupuk Kompos
Kompos adalah peruraian bahan organik oleh jasad renik (mikrobia). Pemberian kompos tidak hanya memperkaya unsur hara bagi tanamn, namun juga berperanan dalam memperbaiki struktur tanah, tata udara dan air dalam tanah, mengikat unsur hara dan memberikan makanan bagi jasad renik yang ada dalam tanah sehingga meningkatkan peran mikrobia dalam menjaga kesuburan tanah. Pembuatan kompos juga relatif mudah. Unutk membuat kompos perlu dipertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.   Bahan sebaiknya berukuran kecil, bebas dari tanaman yang terserang penyakit, akar-akar rumput jahat seperti: alang-alang, rumput jampang, rumput grinting, rumput yang banyak biji, bahan akar tanaman yang mengganggu.
b.   Bila bahan yang digunakan sedikit mengandung unsur nitrogen sebaiknya ditambah dengan bahan yang banyak mengandung nitrogen
c.   Tempat sebaiknya tidak terlalu besar agar memudahkan pembalikan, pengaturan suhu dan tata udaranya lancar.
e.       Kelembaban udara perlu diatur agar tidak terlalu kering dan basah
Membuat Kompos
Bahan
a.   Jerami
b. Daun-daunan, pelepah pisang, potongan rumput, sisa hasil pertanian
c.   Pupuk kandang: kotoran itik, ayam, sapi, kambing,
d.   Abu dapur
e.   Kapur
f.    EM-Lestari
Cara Pembuatan
Timbun bahan-bahan tersebuts ecara berlapis-lapis kecuali EM-lestari
a.   Lapisan pertama dalah jerami 15 cm

Diposting oleh heri kurnianto Kamis, 05 Mei 2011 0 komentar

Pengaruh  Konsentrasi dan Interval Waktu Pemberian Pupuk 
Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman 
Jagung Manis(Zea mays saccharata Sturt)

USULAN PENELITIAN
Oleh :
HERI KURNIANTO
0704120029
AGRONOMI










Usulan Penelitian Ini Merupakan Salah Satu Syarat Untuk
Menyelasikan Studi S1 Pada Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara



Komisi Pembimbing






Ir. M. Syufrin Pasaribu, M. Ed                                 Ir. Wan Afriani Barus, MP
Ketua Komisi                                                             Anggota Komisi





FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2011



KATA PENGANTAR

Bismilahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirobbil’alamin penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan dan keluangan waktu, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal rencana penelitian ini.
Penulisan proposal penelitian ini merupakan salah satu syarat menyelesaikan skripsi dalam menempuh Studi Strata Satu (S1) pada Program Studi Agronomi di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan.
Penulis menyadari, tanpa bantuan dari berbagai pihak, rasanya mustahil dan sungguh terasa sangat berat untuk bisa menyelesaikan penyusunan proposal ini. Karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1.      Orang tua serta keluarga tercinta, yang telah banyak memberikan dukungan baik materil maupun moril kepada penulis selama menjalani kuliah sampai pada persiapan penelitian ini.
2.      Bapak Ir. Alridiwirsah, MM selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
3.      Ibu Hj. Sri Utami, SP, MP selaku Ketua Jurusan Program Studi Agronomi.
4.      Bapak Ir. M. Syufrin Pasaribu, M. Ed, selaku ketua komisi pembimbing.
5.      Ibu Ir. Wan Afriani Barus, M.P, selaku anggota komisi pembimbing.
6.      Civitas akademika jurusan agronomi dan teman – teman yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan penelitian ini
Akhirnya, saran dan kritik membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan proposal usulan penelitian ini.

Medan,    Maret 2011

                                   Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................               i
DAFTAR ISI....................................................................................................              ii
DAFTAR TABEL............................................................................................              iii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................             iv
PENDAHULUAN
Latar Belakang..................................................................................              1
Tujuan Penelitian................................................................................              3
Hipotesis...........................................................................................              3
Kegunaan..........................................................................................              3

TINJAUAN PUSTAKA
........... Botani Tanaman.................................................................................             4
........... Syarat Tumbuh Tanaman....................................................................             5
........... Peranan Pupuk Organik Cair..............................................................            6
                        Pupuk Organik Cair (POC) SUPERNASA................................        6
........... Interval Waktu Pemberian Pupuk ......................................................             7
........... Mekanisme Masuknya Unsur Hara.....................................................            8

BAHAN DAN METODE PENELITIAN
........... Tempat dan Waktu............................................................................            10
........... Bahan dan Alat..................................................................................            10
........... Metode Penelitian..............................................................................            10
........... Pelaksanaan Penelitian.......................................................................            12
                        Persiapan Lahan.........................................................................       12
                        Pengolahan Tanah.......................................................................       12
                        Pembuatan Plot..........................................................................       12
                        Penanaman Benih.......................................................................       12
                        Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) SUPERNASA...................       13
                        Pemeliharaan .............................................................................       13
........... Parameter Pengamatan.......................................................................            14

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................        22


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sweet corn atau jagung manis sudah sejak lama dikenal oleh bangsa Indian, Amerika. Hal ini terbukti ketika tahun 1779 Sullivar melakukan ekspedisi melawan Suku Indian. Dalam perjalanannya ia menemukan ladang jagung manis. Pada tahun 1832, sweet corn telah banyak ditanam di Amerika.
Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).
Permintaan pasar nasional dan internasional terhadap jagung manis cenderung meningkat, seiring dengan munculnya negara yang senantiasa membutuhkan dalam jumlah besar. Potensi tanaman jagung manis tiap hektarnya yang masih rendah sedang permintaan pasar terus meningkat, sehingga berbudidaya jagung manis merupakan hal yang tepat dan mempunyai peluang  pasar yang sangat bagus (Yulianti, 2010).
Jagung mempunyai peran strategis perekonomian nasional, mengingat fungsinya yang multiguna. Jagung dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan, dan bahan baku industri. Dari seluruh kebutuhan jagung, 50% antaranya digunakan untuk pakan.
Selama ini jagung banyak digunakan untuk pakan ternak. Padahal jagung juga bisa dijadikan bioetanol seperti yang dilakukan di Amerika Serikat. Dari kalkulasi sederhana, jika asumsi bioetanol akan menggantikan 10% kebutuhan BBM dalam negeri yang mencapai 6 juta x 2,4 ton jagung ton jagung yang berarti 14,4  juta ton jagung  atau setara dengan 3 juta hektar lahan tanaman jagung. Namun demikian bagi Indonesi kendala utama untuk memproduksi bioetanol dari jagung adalah bahan baku. Sejauh ini untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jagung domestik, Indonesia masih mengimpor (Prihandana dan Hendroko, 2008).
Dalam perekonomian nasional, jagung penyumbang terbesar ke-2 setelah padi dalam subsektor tanaman pangan. Sumbangan jagung terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus meningkat setiap tahun, sekalipun pada saat krisis ekonomi. Pada tahun 2000, kontribusi jagung dalam perekonomian nasional mencapai Rp. 9,4 trilyun dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 18,2 trilyun. Kondisi demikian mengindikasikan besarnya peranan jagung dalam memacu pertumbuhan subsektor tanaman pangan dan perekonomian nasional secara umum (Akil dan Dahlan, 2003).
            Mengingat akan hal tersebut, perlu dilakukan usaha untuk membudidayakan jagung secara intensif dan komersial, sehingga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksinya pun dapat memenuhi standart permintaan konsumen (pasar). Caranya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya dengan meningkatkan penggunaan pupuk, melakukan pengaturan jarak tanam atau menggunakan berbagai macam zat pengatur tumbuh untuk mengaatur petumbuhan dan produktivitas tanaman.
            Pupuk organik cair merupakan salah satu yang banyak beredar di pasaran. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik). Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosa sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis  tanaman dan menyerap nitrogen dari udara.
            Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Dari beberapa beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian melalui tanah (Hanolo, 1997). Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu juga dengan semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka kandungan unsur hara juga semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejalah kelayuan pada tanaman (Suwandi & Nurtika, 1987). Oleh karena itu, pemilihan dosis yang tepat perlu diketahui oleh para peneliti dan hal ini dapat diperoleh melalui pengujian-pengujian di lapangan (Rizqiani dkk, 2007.
            Berdasarkan  beberapa penjelasan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap tanaman jagung yang dibudidayakan dengan perlakuan pengaturan dosis pemupukan dan interval waktu pengaplikasiannya. Karena diduga sampai batas tertentu kombinasi antara konsentrasi yang diberikan  dengan frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan merupakan faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt).
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan interval waktu pemberian Pupuk Organik Cair (POC) SUPERNASA terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays sachhrata Sturt). Serta interaksi antara konsentrasi pupuk dengan interval waktu pemberian.
Hipotesa Penelitian
1.  Diduga ada pengaruh konsentrasi pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt).
2.      Diduga ada pengaruh interval waktu pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt).
3.   Diduga ada pengaruh interaksi konsentrasi dan interval waktu pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt).
Kegunaan Penelitian
1.      Sebagai bahan acuan dalam penyusunan skripsi sekaligus sebagai syarat untuk menyelesaikan studi Starata Satu (S-1) pada Fakultas Pertanian Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara, Medan.
2.      Sebagai bahan informasi bagi semua pihak yang membutuhkan, khususnya bagi para petani yang membudidayakan tanaman jagung.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
           Dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman jagung diklasifikasikan sebagai berikut Kingdom         : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Subdivisio       : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledoneae
Ordo                : Poales (graminales)
Family             : Poaceae (graminae)
Genus              : Zea
Spesies            : Zea mays L (Rukmana, 2007).
Jagung termasuk tanaman berakar serabut yang terdiri dari tiga type akar, yaitu akar seminal, akar adventif, dan akar udara. Akar seminal tumbuh radikula dan embrio. Akar adventif disebut juga akar tunjang, akar ini tumbuh dari buku paling bawah, yaitu sekitar 4 cm dari permukaan tanah. Sementara akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih buku terbawah dekat permukaan tanah (Purwono dan Hartono, 2005)
Batang tanaman jagung bulat silindris, yang masih muda berwarna hijau dan rasanya manis karena banyak mengandung zat gula, beruas-ruas, dan pada bagian pangkal beruas sangat pendek dengan jumlah sekitar 8-20 ruas. Rata-rata panjang tanaman jagung antara satu sampai tiga meter.
Daun tanaman jagung berbentuk pita atau garis. Selain itu juga mempunyai ibu tulang daun yang terletak tepat di tengah-tengah daun dan sejajar dengan ibu daun. Tangkai daun merupakan pelepah yang biasanya berfungsi untuk membungkus batang tanaman jagung.
Bunga jantan terdapat pada malai bunga di ujung tanaman, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Bunga betina ini yang biasa disebut sebagai tongkol (Warisno, 2007).
Buah jagung terdiri atas tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung pada jenisnya. Pada umumnya jagung memiliki barisan biji yang melibit secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8-20 baris biji. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama yaitu kulit biji, endosperm dan embrio (Rukmana, 2004).
Syarat Tumbuh
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl (Prabowo, 2007)
Peranan Pupuk Organik Cair
            POC NASA adalah salah satu jenis pupuk organik cair yang merupakan formula khusus untuk tanaman juga peternakan dan perikanan yang dibuat murni dari bahan - bahan organik dengan fungsi multi guna yaitu: meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman serta kelestarian lingkungan (aspekK-3:Kuantitas-Kualitas-Kelestarian), menjadikan tanah yang keras berangsur - angsur menjadi gembur. Melarutkan sisa pupuk kimia ditanah (dapat dimanfaatkan tanaman), memberikan semua jenis unsur makro dan unsur mikro lengkap, dapat mengurangi penggunaan Urea, SP-36 dan KCl + 12,5% - 25%, setiap 1 liter POC NASA memiliki fungsi unsur hara mikro setara dengan 1 ton pupuk kandang, memacu pertunbuhan tanaman dan akar, merangsang pengumbian, pembungaan dan pembuahan serta mengurangi kerontokan bunga dan buah (mengandung hormon/ZPT Auksin, Giberllin dan Sitokinin), membantu perkembangan mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi tanaman (cacing tanah, Penicilium glaucum dll), meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit (Wunungga, 2009).
            Untuk itu dalam proses budidaya jagung manis peranan Hormon Organik dan Pupuk Organik Cair juga menentukan hasil produksi jagung manis. Dengan menggunakan Hormon Organik dan Pupuk Organik Cair NASA ini dapat memberikan hasil produksi yang lebih baik daripada hanya menggunakan pupuk kimia yang biasa diberikan oleh petani.
 Kegunaan daripada POC NASA adalah sebagai mempercepat proses pertumbuhan tanaman, memacu dan meningkatkan pembungaan, pembuahan, mengurangi kerontokan bunga dan buah, membantu pertumbuhan tunas, membantu pertumbuhan akar, memacu pembesaran umbi serta meningkatkan keawetan hasil panen. Pemberian pupuk lengkap cair POC NAZA pada tanaman jagung dengan dosis 60 cc/tangki (15 liter air) per 1000 m2  disiramkan 1 - 2 minggu sekali.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Penguji Pupuk Organik Cair (POC) SUPERNASA terhadap tanaman jagung manis (Zea mays Sachharata) menunjukkan bahwa hasil  tidak berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman dan pada berat tongkol pertanaman. Untuk analisa usaha taninya yang menggunakan POC NASA lebih menguntungkan, karena dari segi produksinya lebih tinggi dibandingkan tanpa menggunakan Hormonik dan POC NASA (Yulianti, 2010).
Interval Waktu Pemberian Pupuk
            Tanaman jagung memerlukan pemupukan yang efektif sehingga pertumbuhannya dari masa tanam sampai menghasilkan produk dapat meningkat dan berkualitas tinggi. Maka dalam pemberian pupuk terhadap tanamman jagung  perlu mengatur interval waktu pemberian pupuk, metode dan aplikasi yang baik.
Bedasarkan hasil penelitian dari Rahmi dan Jumiati  (2007) tentang pengaruh konsentrasi dan interval waktu pemberian pupuk lengkap cair terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) menunjukkan bahwa pengaruh waktu penyemprotan pupuk Super ACI berbeda tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 14, 28 dan 42 hari setelah tanam, umur tanaman saat keluar bunga jantan, umur tanaman saat keluar bunga betina, umurtanaman saat panen, panjang tongkol, diameter tongkol, berat tongkol, dan produksi tongkol. Namun demikian secara umum hasil penelitian memperlihatkan adanya kecenderungan bahwa perlakuan waktu penyemprotan pupuk Super ACI 15, 30 dan 45 hari setelah tanam menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, umur tanaman saat keluar bunga betina dan umur panen yang lebih cepat, komponen tongkolyang besar dan lebih berat serta produksi tongkol yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan waktu penyemprotan pupuk Super ACI 12, 24 dan 42 hari setelah tanam dan perlakuan waktu penyemprotan pupuk Super ACI 18, 36 dan 54 hari setelah tanam (Rahmi dan Jumiati, 2007).
Peranan Unsur Hara Bagi Pertumbuhan Tanaman
            Tanaman memerlukan makanan yang sering disebut hara tanaman (plant nutrient). Tanaman membutuhkan bahan organik untuk mendapatkan energi dan pertumbuhannya, dengan menggunakan hara, tanaman dapat memenuhi siklus hidupnya. Fungsi hara tidak dapat digantikan dengan oleh unsur lain dan apabila terdapat suatu hara tanaman, maka kegiatan metabolisme akan terganggu atau berhenti (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).
Berdasarkan tanaman hidup terdiri atas bahan organik 27 %, air 70% dan mineral 3%. Analisis kimia menunjukkan bahwa pada tubuh tanaman adanya berbagai unsur mineral dan beberapa faktor. Faktor tersebut adalah perbandingan akan unsur hara yang berbeda, ketersediaan dalam medium yang berbeda dan juga tergantung pada organ tanaman dan umur tanaman (Samekto, 2008).
Daun memiliki mulut yang dukenal dengan nama stomata. Sebagian besar stomata terletak di bagian bawah daun. Mulut daun ini berfungsi untuk mengatur penguapan air dari tanaman sehingga air dari akar dapat sampai daun. Saat suhu udara terlalu panas, stomata akan menutup sehingga tanaman tidak akan mengalami kekeringan. Sebaliknya, jika udara tidak terlalu panas, stomata akan membuka sehingga air yang ada di permukaan daun dapat masuk dalam jaringan daun. Dengan sendirinya unsur hara yang disemprotkan ke permukaan daun juga masuk ke dalam jaringan daun.
Penyemprotan pupuk daun idealnya dilakukan pada pagi atau pada sore hari karena bertepatan pada saat membukanya stomata. Prioritaskan penyemprotan pada bagian bawah daun karena paling banyak terdapat stomata. Faktor cuaca termasuk kunci sukses dalam penyemprotan pupuk daun. Dua jam setelah penyemprotan jangan sampai terkena hujan karena akan mengurangi efektifitas penyerapan pupuk. Tidak disarankan menyemprotkan pupuk daun pada saat suhu udara sedang panas karena konsentrasi larutan pupuk yang sampai ke daun cepat meningkat sehingga daun dapat terbakar. Contoh pupuk daun yang beredar di pasaran yaitu Gandasil Daun 14.12.14 dilengkapi dengan Mn, Mg, B, Cu dan Zn (Yusuf, 2010).
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dimulai bulan April sampai bulan Juli 2011. Dilaksanakan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Amir Hamzah Medan, yang bertempat  Jalan William Iskandar (Pancing), Kecamatan Medan Tembung.
Bahan dan Alat
Bahan : benih jagung manis varietas sugar 75, pupuk organik cair (POC) NASA, Pupuk Urea, TSP, dan KCl (sebagai pupuk dasar), Fungisida Dithane M-45, Insektisida Sevin 85 SP, air, serta bahan-bahan lain yang diperlukan dalam penelitian.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, parang, babat, gembor, tali rafia, tanki, meteran, gunting, papan sampel, timbangan, kalkulator, alat tulis dan peralatan lain yang diperlukan dalam penelitian.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Ranacangan Acak Kelompok (RAK) faktoral dengan dua faktor perlakuan , yaitu :
a.       Faktor pemberian dosis Pupuk Organik Cair NASA (N)
      N0 = Tanpa perlakuan (kontrol)
      N1 = 5 L/Ha (1,13 ml/l air/plot)
      N2 = 10 L/Ha (2,26 ml/l air/plot)
      N3 = 15 L/Ha (3,39 ml/l air/plot)
b.      Faktor interval waktu pemberian Pupuk Orgnik Cair NASA (I)
      I1 = Aplikasi 1 minggu sekali
      I2 = Aplikasi 2 minggu sekali
      I3 = Aplikasi 3 minggu sekali
Jumlah kombinasi perlakuan 4 x 3 = 12 kombinasi, yaitu :
N0I1                             N0I2                             N0I3
N1I1                             N1I2                             N1I3    
N2I1                             N2I2                             N2I3    
N3I1                             N3I2                             N3I3    
Jumlah ulangan                                   : 3 Ulangan
Jumlah tanaman per plot                     : 12 Tanaman
Jumlah tanaman sampel per plot         : 5 Tanaman
Jumlah plot percobaan                        : 36 Plot
Jumlah tanaman sampel seluruhnya    : 150 Tanaman
Jumlah tanaman seluruhnya                : 432 Tanaman
Luas plot percobaan                            : 150 cm x 100 cm
Jarak antar plot                                    : 50 cm
Jarak antar ulangan                             : 100 cm
Jarak tanam                                         : 25 cm x 50 cm
Data hasil penelitian ini dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Beda Rataan menurut Duncan (DMRT). Menurut Gomez dan Gomez (1995), model analisis data untuk Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial adalah sebagai berikut :
Yijk =  µ + βi + Jj + PK + (JP)jk + ∑ijk
Dimana :
Yijk      =  Nilai pengamatan karena pengaruh faktor N blok ke-i pada taraf ke-j dan faktor I pada taraf ke-k.
µ          =  Efek nilai tengah
αi         =  Efek dari blok ke-i
Nj        =  Efek dari faktor N pada taraf ke-j
Ik         =  Efek dari faktor  I pada taraf ke-k
(NB)jk  =  Efek interaksi faktor N pada taraf ke-j dan faktor I pada taraf ke-k
ijk       =  Efek error dari Faktor N taraf ke-j, dengan faktor I pada taraf ke-k pada    ulangan ke-i.
Pelaksanaan Penelitian
Persiapan Lahan
            Lahan atau areal yang telah diukur dibersihkan dari gulma-gulma dan sisa-sisa tanaman yang ada. Pembersihan lahan dilakukan secara manual, yaitu dengan menggunakan alat seperti parang babat, cangkul, serta alat-alat lain yang mendukung.
Pengolahan Tanah
            Pengolahan tanah dilakukan sebanyak dua kali. Pengolahan pertama dengan mencakul secara kasar kemudian dibiarkan selama 2-3 hari agar gas-gas beracun yang ada di dalam tanah hilang. Pengolahan kedua penghalusan tanah supaya didapat tanah yang gembur.
Pembuatan Plot
            Pembuatan plot dikerjakan setelah pengolahan tanah selesai, yaitu dengan membentuk plot-plot penelitian sebanyak 36 plot berukuran 1 m x 1,5 m, dan satu plot cadangan untuk tanaman sisipan. Adapun 36 plot ini dibagi menjadi 3 ulangan. Dalam pembuatan plot sekaligus dibuat jarak antar ulangan dan jarak antar plot masing-masing 100 cm dan 50 cm yang juga berfungsi sebagai pembuangan atau pengaliran air ketika terjadi hujan
Penanaman Benih
               Sebelum penanaman, dilakukan pemberian pupuk dasar Urea, KCl, dan TSP secara berimbang. kemuian penanaman dilaukan secara tugalan, yaitu dengan kedalaman tugalan 3 cm, kemudian setiap lubang diisi dengan 2 benih jagung dan ditutup kembali dengan tanah. Adapun jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 50 cm. Setelah penanaman benih selesai, dilakukan penyiraman pertama dengan menggunakan gembor secara merata.
Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) SUPERNASA
           Pengaplikasian ini dilakukan setelah tanam sebelum panen dengan dosisi per aplikasi 5 tutup botol/tanki. Pemberian pupuk dilakukan pada pagi hari pukul 07.00 – 10.00 WIB atau sore hari pukul 15.00 - 18.00 WIB dengan menggunakan tanki. Pengaplikasian mulai dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam sampai pada saat tanaman sudah berbunga.
    Pemeliharaan
    Penyiraman
    Penyiraman dilakukan secara rutin setiap hari selama masa pertumbuhan tanaman, yaitu pada pagi dan sore hari dengan menggunkan gembor. Dan apabila terjadi hujan pada malam hari maka penyiraman pada pagi hari tidak dilakukan, jika hujan terjadi pada siang hari, maka penyiraman sore hari tidak dilakukan.
    Penjarangan dan Penyulaman
    Penjarangan dilakukan 7 HST dengan cara meninggalkan satu tanaman yang pertumbuhannya baik. Sedangkan penyulaman dilakukan apabila tanaman pada lubang tanam tidak ada yang tumbuh atau mati.
    Penyiangan
    Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma di sekitar tanaman. Penyiangan dilakukan satu minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut karena masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
    Pembumbunan
    Pembumbunan dimaksudkan untuk memperkokoh berdirinya tanaman dan mendekatkan unsur hara. Pembumbunan dilakukan secara bersamaan dengan penyiangan ke 2 yaitu pada umur 42 HST.
    Pengendalian Hama dan Penyakit
    Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida Sevin 85 SP. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.
    Panen
    Panen jagung manis dilakukan sekitar umur 95-100 hst, dimana pada saat tersebut, buah tanaman sudah dikatakan masak secara fisiologis dengan ciri-ciri daun dan kelobot sudah mengering(menguning), bila kelobot dibuka biji sudah tampak kisut 100%.
    Parameter Pengamatan
    Tinggi Tanaman (cm)
    Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari pangkal tumbuh tanaman pada permukaan tanah yang sudah ditandai dengan menggunakan patok standart sampai pada ujung daun tertinggi. Pengukuran dimulai pada saat tanaman berumur 2 MST sampai muncul bunga jantan, dengan interval waktu pengukuran 1 minggu sekali.
    Jumlah Daun (helai)
                Pengamatan atau penghitungan jumlah daun dilakukan pada daun yang telah membuka sempurna. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 MST sampai tanaman mengeluarkan bunga jantan, dengan interval waktu pengamatan 1 minggu sekali.
    Panjang Tongkol (cm)
                Pengukuran panjang tongkol dilakukan setelah panen, yaitu setalah tongkol dipisahkan dari kelobotnya (dikelupas). Pengukuran dilakukan dari pangkal sampai ujung tongkol dengan menggunakan meteran atau sejenisnya.
    Berat Tongkol Per Plot (g)
                Penghitungan dilakukan dengan menimbang seluruh tanaman jagung pada tiap-tiap plot, yaitu dengan meggunakan alat timbangan.
    Produksi Per Plot (kg)
                Penghitungan produksi per plot dilakukan dengan menimbang seluruh tanaman jagung pada tiap-tiap plot. Penimbangan buah jagung dilakukan dengan kondisi buah jagung masih utuh, yaitu dalam kondisi seperti jagung baru dipanen dari tanamannya.
    DAFTAR PUSTAKA
    Akil, M., dan Dahlan, H. A., 2008. Budidaya Jagung dan Desimini Teknologi. Balai Penelitian Tanaman Serealia. http://www.docstoc.com/docs/20905979/Wilayah-Produksi-dan-Potensi-Pengembangan-Jagung/05/04/2011.

    Dartius, 2001. Diktat Panduan Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sumatera Utara. Medan.

    Rahmi, A., dan Jumiati, 2007. Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Penyemprotan Pupuk Organik Cair Super ACI terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis. Fakultas  Pertanian         Universitas      Tujuh   Belas         Agustus 1945 Samarinda

    Rizqiani, N. F, Ambarawi, E, dan Yuwono, N. W., 2007. Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pemberian Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Buncis (Phaseolus vulgaris L) Dataran Rendah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. http://soil.faperta.ugm.ac.id/jitl/7.1%2043-53%20Rizqiani.%20Pengaruh%20Dosis.pdf

    Rukmana, R.,  2004. Botani Jagung dalam Artikel TANI MUDA. http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/botani-jagung/05/04/2011.

                            2007, Usaha Tani Jagung. Kanisius. Yogyakarta.

    Samekto R, 2008. Pemupukan. PT. Citra Aji Parama Yogyakarta. Penerbit KANISIUS. Yogyakarta

    Subandi, Pabbage, dan Zubachtirodin, 2005. Wilayah Produksi dan Potensi Pengembangan Jagung, dalam penelitian Warsana dengan Judul Analisis dan Efisiensi Keuntungan Tani Jagung.

    Tim Karya Tani Mandiri, 2010. Pedoman Bertanam Jagung. CV. Nusantara Aulia. Bandung.

    Prabowo, A. Y., 2007. Teknis Budidaya : Budidaya Jagung. http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-jagung.html/07/04/2011

    Prihandana, R., dan Hendroko, R., 2008. Energi Hijau Pilihan Bijak Menuju Negeri Mandiri Energi. Penebar Swadaya. Bogor.

    Purwono, M.S, dan Hartono, R. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Bogor.
    Warisno, 2007. Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta.

    Wunungga, 2009. Pengaruh Macam dan Interval Waktu Pemberian Pupuk Lengkap Cair Terhadap Pertumbuhan dan Bibit Kakao (Theobroma cacao L). http://freedom-wunungga.blogspot.com/2009/11/penelitian-pengarauh-macam-dan-interval.html. 07/04/2011

    Yulianti, D., 2010. Pengaruh Hormon Organik dan Pupuk Organik Cair (POC) Super Nasa Terhadap Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt). http://penelitian-organik-penelitian.blogspot.com/2010/03/pengaruh-hormon-organik-dan-pupuk.html.05/04/2011.

    Yusuf, T., 2010. Pemupukan dan Penyemprotan Lewat Daun. Tohari Yusuf’s Pertanian Blog. http://tohariyusuf.wordpress.com/

    Diposting oleh heri kurnianto Kamis, 31 Maret 2011 0 komentar

    Zona Ngombrol


    Click here for Myspace Layouts

    heri kurnianto. Diberdayakan oleh Blogger.

    Subscribe here

    Cari Data

    Custom Search